Reivan Juliswan Hulu
UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Asbab Al-Nuzul sebagai Basis Moderasi Relasi Muslim-Kristen dalam Al-Qur’an Reivan Juliswan Hulu; Bilfahmi Putra; Ahmad Sainul
Islamic Studies and Law Vol. 1 No. 1 (2026)
Publisher : PT. Riset Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66618/kd3f4a12

Abstract

Kajian ini dilakukan untuk menganalisis fungsi asbab al-nuzul sebagai basis kontekstual dalam memperkuat moderasi relasi Muslim-Kristen dalam Al-Qur’an. Masalah utama yang dikaji adalah kecenderungan pembacaan ayat-ayat tentang Ahlu al-Kitab secara tekstual, parsial, dan eksklusif, sehingga ayat yang lahir dalam konteks konflik sering digeneralisasikan ke dalam hubungan sosial yang damai. Pola pembacaan tersebut berpotensi melahirkan sikap keagamaan yang kaku, menutup ruang dialog, dan melemahkan semangat koeksistensi dalam masyarakat plural. Dengan menggunakan pendekatan historis-analitis, kajian ini menelusuri hubungan antara latar turunnya ayat, corak pesan Al-Qur’an, serta relevansinya bagi kehidupan antarumat beragama. Data kajian diperoleh melalui telaah kepustakaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan relasi Muslim dan Kristen, literatur tafsir, kajian asbab al-nuzul, serta wacana moderasi beragama. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memuat narasi yang tidak monolitik terhadap komunitas Kristiani. Pada satu sisi, terdapat ayat-ayat yang bersifat apresiatif terhadap kelompok Kristiani dalam konteks relasi sosial yang damai, terutama ketika mereka menunjukkan ketulusan, kerendahan hati, dan komitmen terhadap kebajikan. Pada sisi lain, terdapat ayat-ayat bernada konfrontatif yang berkaitan dengan situasi politik, ketegangan sosial, dan konflik pada masa kenabian. Kajian ini menyimpulkan bahwa asbab al-nuzul menjadi instrumen penting untuk membedakan pesan universal dan respons kondisional, sehingga ayat-ayat konflik tidak digunakan secara serampangan dalam masyarakat plural yang menjunjung keadilan, dialog, dan perdamaian antarumat beragama.