Shinta Shinta Nurziana
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hegemoni Kekuasaan Dalam Pagelaran Wayang Climen Lakon “Semar Mbangun Kayangan” Oleh Ki Seno Nugroho Perspektif Antonio Gramsci Panji Perdana Putra Priyanto; Ahmad Fatkhur Rohman; Shinta Shinta Nurziana
Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol. 8 No. 2 (2026): Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/rq1e0v55

Abstract

Wayang kulit merupakan bentuk seni tradisional yang kaya akan pesan moral dan nilai-nilai kehidupan. Lakon Semar Mbangun Kayangan yang dipentaskan oleh Ki Seno Nugroho menggambarkan perjuangan Semar dalam membangun “kayangan” sebagai simbol pembangunan moral masyarakat. Artikel ini menganalisis penerapan teori hegemoni kekuasaan Antonio Gramsci dalam pagelaran wayang kulit tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis naratif dan simbolik untuk memahami bagaimana wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tradisional, tetapi juga sebagai sarana penyebaran dan perlawanan terhadap nilai-nilai ideologis kekuasaan hegemonik. Dengan memanfaatkan simbol-simbol dalam pagelaran, lakon ini mencerminkan dialektika antara kekuasaan dan kesadaran rakyat. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana pagelaran ini berfungsi sebagai arena pertarungan ideologis, di mana kekuasaan dominan dihadapkan dengan nilai-nilai alternatif yang dapat menantang hegemoni tersebut. Artikel ini menegaskan bahwa seni pertunjukan wayang kulit berperan penting dalam membentuk kesadaran politik dan sosial masyarakat. Selain itu, wayang kulit juga berfungsi sebagai ruang bagi masyarakat untuk merefleksikan dan mengkritisi ideologi yang berlaku, serta memperkenalkan nilai-nilai baru yang dapat menumbuhkan kesadaran kolektif.