Wayang kulit merupakan bentuk seni tradisional yang kaya akan pesan moral dan nilai-nilai kehidupan. Lakon Semar Mbangun Kayangan yang dipentaskan oleh Ki Seno Nugroho menggambarkan perjuangan Semar dalam membangun “kayangan” sebagai simbol pembangunan moral masyarakat. Artikel ini menganalisis penerapan teori hegemoni kekuasaan Antonio Gramsci dalam pagelaran wayang kulit tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis naratif dan simbolik untuk memahami bagaimana wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tradisional, tetapi juga sebagai sarana penyebaran dan perlawanan terhadap nilai-nilai ideologis kekuasaan hegemonik. Dengan memanfaatkan simbol-simbol dalam pagelaran, lakon ini mencerminkan dialektika antara kekuasaan dan kesadaran rakyat. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana pagelaran ini berfungsi sebagai arena pertarungan ideologis, di mana kekuasaan dominan dihadapkan dengan nilai-nilai alternatif yang dapat menantang hegemoni tersebut. Artikel ini menegaskan bahwa seni pertunjukan wayang kulit berperan penting dalam membentuk kesadaran politik dan sosial masyarakat. Selain itu, wayang kulit juga berfungsi sebagai ruang bagi masyarakat untuk merefleksikan dan mengkritisi ideologi yang berlaku, serta memperkenalkan nilai-nilai baru yang dapat menumbuhkan kesadaran kolektif.
Copyrights © 2026