Artikel ini mengkaji transformasi estetika visual pamor pada seni tempa keris kontemporer di Indonesia yang ditandai oleh peralihan penggunaan material dari bahan baku tradisional, seperti meteorit dan nikel murni, menuju logam daur ulang. Fenomena adaptif terhadap kelangkaan material dan isu keberlanjutan ini memunculkan perubahan pada karakter visual dan konstruksi makna simbolik pamor. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan menganalisis karakteristik teknis-visual dan proses pembentukan makna pamor berbahan logam daur ulang dari perspektif empu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada karya-karya keris kamardikan melalui observasi visual, wawancara mendalam, dan dokumentasi, yang dianalisis menggunakan teori estetika kriya Howard Risatti dan semiotika visual Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa material daur ulang menghasilkan karakter visual khas berupa variasi rona, kontras, tekstur, dan jejak material yang berbeda dari pamor konvensional. Karakter visual tersebut tidak dipahami sebagai bentuk degradasi estetis, melainkan sebagai manifestasi truth to materials yang memperkuat identitas visual pamor kontemporer. Pada saat yang sama, penggunaan material daur ulang membentuk lapisan makna baru yang merepresentasikan inovasi tradisi, kesadaran ekologis, dan adaptasi budaya. Temuan ini menunjukkan bahwa pamor keris berbahan logam daur ulang telah bertransformasi menjadi artefak budaya yang tidak lagi bertumpu pada mitologi asal-usul material, melainkan pada narasi transformatif yang menghubungkan materialitas, estetika visual, dan makna budaya. Melalui proses tersebut, thingness (kebendaan) pamor hadir sebagai ekspresi visual sekaligus medium dialog antara tradisi, kreativitas empu, dan tantangan keberlanjutan pada seni kriya kontemporer.