Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Integrating Javanese Culture into English Pronunciation and Vocabularies Learning at SDN Gading Surakarta Donie Fadjar Kurniawan; Mohammad Ubaidul Izza; Meutia Rafa Anandita
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261351

Abstract

This community service is in the form of a spoken English workshop for beginners through the introduction and improvement of correct pronunciation skills and sufficient vocabulary. This is deemed necessary because it is a needed foundation whether the spoken English is correct or not and its use in the next stage. The method is descriptive qualitative design within a community service framework. The participants of this learning workshop are students of grades 4, 5, 6 of State Elementary School (SDN) Gading Surakarta with a composition of 10 students each with the school conducting the selection. The training time is July to August 2025. The teaching materials were developed based on the principles of contextual teaching and learning (Johnson, 2002), in which English such as number, color, simple phrase are introduced through familiar cultural content such as wayang, gamelan, batik, keris, joglo and various Javanese culture. The result of this training is that spoken English has been known and practiced by participating students. From the number 0 /ˈzɪəroʊ / to 100 /wʌn ˈhʌndrəd/;  colors and simple phrase such as white joglo (/waɪtjoglo/). This training also successfully integrated the Javanese culture into spoken English learning through pronunciation and vocabulary can significantly improve student engagement and understanding.
Pengembangan Keramik Batik Sebagai Diversifikasi Produk Bagi Pembatik di Kampung Surtanan Klaten Mohammad Ubaidul Izza; Rahayu Adi Prabowo; Sutriyanto; Cerly Sudarta Martsidaun
Ornamen Vol. 22 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Surtanan di Desa Serenan, Kabupaten Klaten, memiliki sumber daya manusia pembatik yang selama ini memproduksi batik berdasarkan pesanan dari pengusaha di Solo dan Yogyakarta. Namun, pola produksi yang bergantung pada adanya pesanan menghambat motivasi untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi produk kerajinan yang sejalan dengan perkembangan industri kerajinan. Kelompok pembatik yang dipimpin oleh Sri Suyamti ini juga menghadapi kendala dalam pengetahuan mengenai diversifikasi produk dan strategi produksinya. Menyikapi permasalahan tersebut, Tim instruktur ISI Surakarta memberikan solusi melalui pelatihan diversifikasi produk dengan teknik cetak motif batik pada media keramik. Pelatihan ini melibatkan para pembatik dan perajin ukir yang masih memiliki ikatan kekerabatan, guna menciptakan kolaborasi berkelanjutan dalam kerajinan. Selain memperkaya teknik dan variasi produk, pelatihan ini juga memperkuat manajemen produksi melalui tradisi rewang serta peran kerabat pembatik dalam mengembangkan cetakan keramik. Pendampingan intensif dari Tim instruktur ISI Surakarta kepada 25 orang pembatik diharapkan dapat menguatkan potensi kreativitas dan kolaborasi yang berdampak berkelanjutan.
Transformasi Pamor: Negosiasi Makna Dan Kebendaan Dalam Keris Kamardikan Berbasis Logam Daur Ulang Mohammad Ubaidul Izza; Devi Nirmala Muthia Sayekti; Sugiyamin Sugiyamin; Lingga Nugraha
CILPA Vol 11 No 2 (2026): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v11i2.22678

Abstract

Abstrak Transformasi pamor pada keris kamardikan berbasis logam daur ulang menandai perubahan signifikan dalam cara makna, nilai, dan kebendaan keris diproduksi dan dinegosiasikan oleh perajin kontemporer. Jika pamor tradisional mengandalkan pola material alamiah melalui teknik lipatan tempa berlapis, maka pamor daur ulang menghasilkan tekstur dan kontras yang tidak dapat sepenuhnya dikontrol, sehingga menciptakan kondisi thingness—kebendaan yang memiliki otonomi dan karakter materialnya sendiri. Penelitian ini bertujuan menelaah bagaimana material non-konvensional tersebut membentuk ulang relasi antara empu, pamor, dan makna simbolik keris; serta bagaimana kerusakan semiotik (semiotic disruption) terjadi ketika pola pamor tidak lagi mengikuti kaidah klasik yang mapan. Pendekatan dilakukan melalui observasi praktik tempa, dokumentasi visual, serta wawancara dengan perajin yang mengeksplorasi logam limbah sebagai sumber pamor. Temuan menunjukkan bahwa pamor daur ulang tidak hanya melahirkan estetika baru dalam keris kamardikan, tetapi juga memicu negosiasi identitas antara tradisi dan inovasi. Kerusakan struktur tanda justru membuka ruang naratif baru yang menggeser pamor dari simbol kosmologis menjadi ekspresi material kontemporer yang menandai dinamika budaya kriya saat ini. Abstract The transformation of pamor in keris kamardikan based on recycled metal marks a significant change in how the meaning, value, and materiality of keris are produced and negotiated by contemporary artisans. While traditional pamor relies on natural material patterns through layered forging techniques, recycled pamor produces textures and contrasts that cannot be fully controlled, thus creating a condition of thingness; materiality with its own autonomy and material character. This research aims to examine how such non-conventional materials reshape the relationship between the empu, pamor, and the symbolic meaning of the keris, and how semiotic disruption occurs when the pamor patterns no longer adhere to established classical norms. The approach involves observing the forging practice, visual documentation, and interviews with artisans exploring waste metal as a source for pamor. The findings show that recycled pamor not only gives birth to a new aesthetic in keris kamardikan but also triggers a negotiation of identity between tradition and innovation. The disruption of structural signs actually opens up new narrative spaces that shift pamor from cosmological symbols to a contemporary material expression that reflects the dynamics of current craft culture