Peningkatan jumlah apotek di Kota Palangka Raya turut memperketat persaingan usaha, sehingga apotek mandiri dituntut memiliki strategi yang tepat untuk mempertahankan keberlanjutan usahanya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pengelolaan harga, Customer Relationship Management (CRM), dan pemanfaatan lokasi strategis terhadap keberlanjutan usaha pada apotek mandiri di Kota Palangka Raya, baik secara parsial maupun simultan, dengan menggunakan kerangka teori Resource-Based View (RBV). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis explanatory research melalui metode survei terhadap 58 apotek mandiri yang ditentukan menggunakan teknik simple random sampling. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil uji parsial (uji t) menunjukkan bahwa CRM berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberlanjutan usaha (t = 5,612; p = 0,000), sedangkan pengelolaan harga (t = 1,958; p = 0,055) dan lokasi strategis (t = -0,112; p = 0,911) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Namun, hasil uji simultan (uji F) menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan usaha (F = 34,135; p < 0,001), dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,655. Temuan ini menunjukkan bahwa CRM merupakan faktor dominan dalam mendukung keberlanjutan usaha apotek mandiri, mengungguli peran pengelolaan harga maupun lokasi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian keberlanjutan usaha sektor farmasi berbasis RBV, sekaligus rekomendasi praktis bagi pengelola apotek untuk memprioritaskan penguatan hubungan pelanggan sebagai strategi keberlanjutan usaha jangka panjang.