Limbah berupa tongkol jagung seringkali hanya ditumpuk dan dibakar secara terbuka yang memicu polusi, atau dibuang begitu saja sehingga mencemari lingkungan. Padahal, tongkol jagung memiliki kandungan kalor yang tinggi sehingga sangat potensial diolah menjadi briket bioarang. Pemanfaatan limbah tongkol jagung menjadi briket bioarang bukan hanya sekadar solusi penanganan limbah, namun secara nyata berpotensi menjadi instrumen peningkatan kesejahteraan ekonomi petani. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan petani terhadap rancangan penyuluhan (materi, metode, media, volume, lokasi, waktu, dan biaya) pembuatan briket bioarang tongkol jagung. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive) dengan pertimbangan tertentu, yaitu di Desa Berampu Kecamatan Berampu Kabupaten Dairi. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif dengan analisis data menggunakan SPSS serta metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara dan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah 10 kelompok tani pembudidaya jagung aktif yang terdaftar di Desa Berampu, Kecamatan Berampu, Kabupaten Dairi. Penentuan sampel dari populasi tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan tingkat penerimaan (acceptability) kelompok tani terhadap keseluruhan rancangan kegiatan penyuluhan berada pada kriteria sangat efektif dengan pencapaian persentase kumulatif sebesar 82,89% (skor 15.381 dari 18.555). Secara parsial, ketujuh indikator pelaksanaan yang diukur mencatatkan hasil yang sangat efektif, meliputi indikator Materi (83,89%), Metode (83,85%), Media (81,60%), Volume (82,67%), Lokasi (83,00%), Waktu (82,33%), dan Biaya (82,33%).