Mu'ammar Zayn Qadafy
Sunan Kalijaga State Islamic University (UIN), Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

A Hypothetical Reconstruction of The Lost Qur’anic Commentary of Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī (D. 911/1505) (Part 2): The Text of Majmaʻ al-Baḥrayn wa Maṭlaʻ al-Badrayn Mu'ammar Zayn Qadafy; Azam Bahtiar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 64, No 1 (2026)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2026.641.121-147

Abstract

Although no manuscript of al-Suyūṭī’s (d. 911/1505) unfinished Majmaʻ al-Baḥrayn wa Maṭlaʻ al-Badrayn is currently known to survive, al-Suyūṭī himself identifies it as a major project intended to bring together the transmitted and rational dimensions of Qurʼānic interpretation. The article reconstructs a hypothetical version of the work by critically synthesizing material from al-Suyūṭī’s tafsīr writings, including al-Iklīl, Muʻtarak al-Aqrān, Tanāsuq Al-Durar, and al-Durr al-Manthūr, following the author’s methodological rules as explicated in al-Itqān. Situating itself within established practices of historical textual reconstruction of Islamic texts, this article argues further that such reconstruction is possible if undertaken with careful creativity, allowing verifiable textual evidence to be distinguished from scholarly inference.[Meskipun hingga kini tidak diketahui adanya manuskrip Majmaʻ al-Baḥrayn wa Maṭlaʻ al-Badrayn karya al-Suyūṭī (w. 911/1505) yang belum selesai tersebut, al-Suyūṭī sendiri menyebutnya sebagai sebuah proyek besar yang dimaksudkan untuk mempertemukan dimensi riwayat dan rasional dalam penafsiran Al-Qur’an. Artikel ini merekonstruksi versi hipotetis dari karya tersebut dengan menyintesiskan secara kritis materi dari berbagai karya tafsir al-Suyūṭī, termasuk al-Iklīl, Muʻtarak al-Aqrān, Tanāsuq al-Durar, dan al-Durr al-Manthūr, dengan mengikuti kaidah-kaidah metodologis yang dijelaskan oleh penulis dalam al-Itqān. Dengan menempatkan kajian ini dalam praktik-praktik yang telah mapan dalam rekonstruksi tekstual historis atas teks-teks Islam, artikel ini lebih lanjut berargumen bahwa rekonstruksi semacam itu dimungkinkan jika dilakukan dengan kreativitas yang hati-hati, sehingga bukti tekstual yang dapat diverifikasi dapat dibedakan dari inferensi ilmiah.]