Prevalensi Diabetes Melitus (DM) tipe 2 pada lansia di Indonesia meningkat seiring bertambahnya populasi usia. Kondisi ini meningkatkan risiko sarcopenia melalui resistensi insulin dan inflamasi kronis. Aktivitas fisik dan indeks massa tubuh (IMT) berperan dalam mempertahankan massa otot lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan aktivitas fisik dan IMT dengan status massa otot pada lansia penderita DM tipe 2 di Puskesmas Pamotan. Penelitian menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan rancangan cross-sectional, melibatkan 100 lansia penderita DM tipe 2 berusia 60–70 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire–Short Form (IPAQ-SF), IMT diperoleh melalui pengukuran antropometri, sedangkan massa otot diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) Omron HBF-375 dan dikategorikan menjadi massa otot rendah dan normal. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square atau Fisher's Exact Test dengan tingkat kemaknaan p < 0,05 serta perhitungan odds ratio (OR). Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki aktivitas fisik sedang, IMT normal, dan massa otot normal. Terdapat hubungan bermakna antara aktivitas fisik dan status massa otot (p = 0,001; OR = 0,096). Hubungan bermakna juga ditemukan antara IMT dan status massa otot (p < 0,001; OR = 14,33). Responden dengan IMT underweight memiliki risiko lebih tinggi mengalami massa otot rendah dibandingkan responden dengan IMT normal. Kesimpulannya, aktivitas fisik sedang dan IMT normal berhubungan dengan massa otot normal. Program latihan fisik terstruktur dan skrining status gizi direkomendasikan untuk mencegah sarcopenia pada lansia dengan DM tipe 2.