Utomo, Kurniawan Dwi Madyo
Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Cognitive Behavioral Therapy untuk Meningkatkan Self-Efficacy Akademis pada Siswa SMA Korban Bullying Relasional Utomo, Kurniawan Dwi Madyo
SOLUTION, Journal of Counseling and Personal Development Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.607 KB)

Abstract

Fenomena bullying relasional di sekolah bukan sesuatu yang baru. Bullying relasional adalah bentuk intimidasi untuk menyakiti orang lain dan merusak reputasinya, melalui gossip, penyeberan rumor, dan pengucilan dari kelompok. Murid perempuan lebih sering menjadi korban bullying ini daripada murid laki-laki. Bullying relasional menurunkan self-efficacy akademis siswa, yang akhirnya menurunkan pencapaian akademisnya. Self-efficacy akademis adalah keyakinan individu akan kemampuannya untuk mengerjakan tugas akademis yang ditentukan. Siswa yang mempunyai self-efficacy akademis rendah tidak mempunyai motivasi tinggi untuk belajar dan tidak mampu mengerjakan tugas-tugas sekolah. Konselor sekolah mempunyai tanggung jawab untuk melakukan intervensi terhadap siswa yang menjadi korban bullying ini. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) digunakan untuk mengurangi dampak bullying relasional dan meningkatkan self-efficacy akademis siswa.
Analisis Perkembangan Teori-Teori Psikologi dengan Epistemologi Problem-Solving Menurut Karl Popper Kurniawan Madyo Utomo
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v5i1.39725

Abstract

Artikel ini memaparkan epistemologi Karl R. Popper mengenai teori problem-solving yang berusaha mensistematisasi cara pertumbuhan ilmu pengetahuan melalui koreksi atas kesalahan. Epistemologi problem-solving dari Karl Popper yang realistis dan rasional, sangat relevan dan bermanfaat untuk menelaah perkembangan teori-teori psikologi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengkaji pergeseran filsafat ilmu dari positivisme logis ke epistemologi problem-solving menurut Karl Popper, menelaah perkembangan teori-teori psikologi, dan merefleksikan secara kritis sumbangan epistemologi problem-solving tersebut bagi ilmu psikologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan studi pustaka (library research). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kritik atas teori itu adalah suatu keniscayaan dan setiap teori harus bersikap terbuka terhadap kritik. Kritik juga merupakan perwujudan prinsip penyangkalan terhadap suatu teori. Suatu kritik akan menghasilkan eror elimination, yaitu eliminasi terhadap kemungkinan kesalahan yang ada dalam teori. Terjadinya eror elimination melahirkan teori baru. Oleh karena itu, ilmu psikologi akan terus mengalami perkembangan kalau ada kritik terhadap ilmu tersebut.
Pengaruh Persahabatan Terhadap Kesejahteraan Hidup Manusia Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Seri Filsafat Teologi Vol. 30 No. 29 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v30i29.28

Abstract

Friendships are fundamental to human social life. Therefore, people try every great effort to build and maintain these friendships. The aim of this paper is to discuss the effect of friendship on the well-being of individuals at every stage of human development. The method used to achieve this goal is to explore the results of studies related to friendship and its effect on human well-being. The results of these studies indicate that friendship can be related to well-being. Healthy friendships help people to adjust and give them happiness. Happy people also tend to try to build and maintain friendships. Contrarily, unhealty friendships lead to loneliness and depression. Friendships which has been built since childhood also affects the well-being of an individual’s life at the later stages of human development.
Identitas Diri Dan Spiritualitas Pada Masa Remaja Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Seri Filsafat Teologi Vol. 28 No. 27 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa remaja dapat menjadi masa yang sulit bagi remaja dan bagi orang-orang di sekitarnya, yang menyertai perjalanan remaja tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam dunia yang berubah dengan cepat ini, remaja ingin menyesuaikan diri dengan budaya populer atau budaya orang muda. Ia menggunakan budaya populer ini untuk memahami diri, untuk mengetahui tempat/posisinya dalam budaya populer ini, dan untuk mengenal remaja-remaja lain dalam konteks lingkungan sosialnya (setiap orang dari berbagai rentang usia menggunakan konteks sosial untuk membentuk identitas diri dan spiritualitas pribadi). Budaya populer ini memengaruhi pembentukan identitas diri dan perkembangan spiritual remaja. Akan tetapi, beberapa aspek budaya populer mungkin malah tidak menumbuhkan identitas diri dan hidup spiritual remaja.
Kontributor Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Seri Filsafat Teologi Vol. 30 No. 29 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v30i29.136

Abstract

Kontributor
Pengaruh Dukungan Sosial dan Harapan terhadap Kesehatan Mental Selama Pandemi Covid-19 Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Seri Filsafat Teologi Vol. 31 No. 30 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v31i30.169

Abstract

The restrictions of community activities and isolation are implemented to help restrict the spread of Covid-19. The imposition of these things limits individuals’ access to social support from friends, family, and other social networks. As a consequence, individuals have mental health problems, such as: feelings of loneliness, anxiety, frustration, and depression. Those who are unable to effectively cope with these negative emotions and lack social support are more likely to report higher levels of psychological stress and poor psychological well-being. Therefore, they have to build social support and hope so that they are able to reduce psychological stress and have psychological health during the Covid-19 pandemic.
Formatio untuk Misionaris: Mengembangkan Kesehatan yang Menyeluruh Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.171

Abstract

Para misionaris bekerja tanpa lelah di tanah misi untuk membangun Kerajaan Allah. Penyesuaian diri dengan budaya dan bahasa baru, beban pekerjaan, relasi dengan rekan kerja dan umat, dan kondisi lingkungan dapat memengaruhi kesehatan mereka. Beberapa dari antara mereka mengalami kelelahan, menjadi sakit, dan akhirnya harus meninggalkan tanah misi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menumbuhkan kualitas hidup dan kesehatan para misionaris secara menyeluruh, sehingga mereka dapat mewartakan Injil dengan cara-cara yang produktif dan sehat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan studi pustaka. Hasil penelitian ini menemukan bahwa para misionaris yang menjalani kehidupan lintas budaya perlu dipersiapkan dan dibantu untuk mengintegrasikan pikiran, tubuh, dan jiwa secara harmonis agar mereka memiliki kesehatan yang holistik atau menyeluruh, yaitu kesehatan emosional, sosial, fisik, mental, lingkungan, dan rohani. Memiliki kesehatan yang holistik tersebut akan meningkatkan kesejahteraan dan kesediaan mereka untuk melayani di tanah misi.
Cognitive Behavioral Therapy untuk Meningkatkan Self-Efficacy Akademis pada Siswa SMA Korban Bullying Relasional Utomo, Kurniawan Dwi Madyo
SOLUTION Vol 1, No 1 (2019): Solution : Journal of Counselling and Personal Development
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sol.v1i1.2262

Abstract

Fenomena bullying relasional di sekolah bukan sesuatu yang baru. Bullying relasional adalah bentuk intimidasi untuk menyakiti orang lain dan merusak reputasinya, melalui gossip, penyeberan rumor, dan pengucilan dari kelompok. Murid perempuan lebih sering menjadi korban bullying ini daripada murid laki-laki. Bullying relasional menurunkan self-efficacy akademis siswa, yang akhirnya menurunkan pencapaian akademisnya. Self-efficacy akademis adalah keyakinan individu akan kemampuannya untuk mengerjakan tugas akademis yang ditentukan. Siswa yang mempunyai self-efficacy akademis rendah tidak mempunyai motivasi tinggi untuk belajar dan tidak mampu mengerjakan tugas-tugas sekolah. Konselor sekolah mempunyai tanggung jawab untuk melakukan intervensi terhadap siswa yang menjadi korban bullying ini. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) digunakan untuk mengurangi dampak bullying relasional dan meningkatkan self-efficacy akademis siswa.
Penerapan Pendidikan Teknologi Menurut Yuval Noah Harari di Indonesia Kareli, Vincentius Yossy; Utomo, Kurniawan Dwi Madyo
Forum Vol 52 No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia dan Filsafat Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/forum.v52i2.559

Abstract

Pendidikan termasuk dalam bidang pembinaan sentral manusia. Manusia telah memasuki dunia pendidikan sedari ia lahir hingga menjelang kematiannya. Pendidikan adalah salah satu upaya bagi manusia untuk mewujudkan eksistensinya di dunia. Pendidikan abad 21 tengah diwarnai dengan banyak kemajuan teknologi yang juga memberi dampak tersendiri bagi pendidikan dan usaha realisasi eksistensi peserta didik. Lembaga pendidikan dari semua jenjang perlu memperhatikan fakta tersebut supaya mampu merancang peta pendidikan yang tepat guna dan menghasilkan generasi yang mampu beradaptasi di era disrupsi teknologi. Dalam penelitian ini penulis memaparkan secara ringkas pendidikan teknologi menurut Yuval Noah Harari dan penerapannya di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur, dengan menggunakan sumber-sumber relevan dan kredibel seperti buku, jurnal, dan media massa elektronik. Penelitian ini menemukan bahwa pendidikan teknologi menurut Harari berfokus pada pembinaan karakter, pengembangan literasi teknologi peserta didik, serta pendalaman kompetensi kolaboratif-kooperatif dan sangat relevan diterapkan di Indonesia.
Analisis Dampak Media Sosial terhadap Proses Pembinaan Hidup Rohani Mahasiswa Generasi Z Utomo, Kurniawan Dwi Madyo; Meo, Yohanes Wilson B. Lena
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 10 No 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study explores how social media affects the spiritual formation of Generation Z students in a major seminary. Generation Z has grown up entirely in an internet-saturated world where social media is central to daily life. For Catholic institutions seeking to nurture students’ spiritual growth, it is vital to understand how these platforms shape - and sometimes hinder - this process, as well as how students themselves perceive their influence. Data were collected through an online survey emailed to undergraduates, with 119 students completing the questionnaire, and through follow-up interviews with eleven participants. Quantitative data were analysed using linear regression to examine the relationship between social media use and spiritual well-being. The survey and interviews investigated students’ participation in spiritual practices - such as the Eucharist, personal prayer, and other devotions. Results show that social media has markedly reshaped the process of spiritual formation. Many students reported that frequent engagement with social media reduced their ability to be fully present in key spiritual disciplines, particularly during the Eucharist, in times of silent reflection, and in personal prayer.