This study examines the representation of reincarnation within Chinese cultural beliefs as portrayed in the Taiwanese film Till We Meet Again. Recognizing film as a medium that communicates cultural meaning through visual, auditory, and symbolic elements, this research explores how concepts of reincarnation and karma are constructed through the film’s narrative and semiotic signs. The analysis applies Charles Sanders Peirce’s semiotic framework—icon, index, and symbol. Using a qualitative interpretative method, the researcher analyzes selected scenes and symbolic elements that reflect embedded cultural values. The findings reveal that the film presents reincarnation as a spiritual journey shaped by one’s actions and relationships in past lives. This is illustrated through the symbolism of the black–white karma bracelet, the reincarnation of Alan and Pinky, the antagonist’s endless suffering within the samsara cycle, and the red string representing destined connections. Overall, the study concludes that Till We Meet Again conveys cultural and spiritual values through symbolic visual representations. Penelitian ini membahas representasi reinkarnasi dalam kepercayaan budaya Tionghoa sebagaimana ditampilkan dalam film Taiwan Till We Meet Again. Berangkat dari pemahaman bahwa film merupakan media yang menyampaikan pesan budaya melalui unsur visual, audio, dan simbolik, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana makna reinkarnasi dan hukum karma dibangun dalam alur cerita serta tanda-tanda yang muncul. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce, yaitu ikon, indeks. Dengan metode kualitatif interpretatif, peneliti menelaah sejumlah adegan dan simbol untuk mengungkap nilai budaya yang direpresentasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini menggambarkan reinkarnasi sebagai perjalanan jiwa yang dipengaruhi oleh tindakan dan hubungan dalam kehidupan sebelumnya. Hal ini tampak melalui konsep karma pada simbol gelang hitam-putih, proses kelahiran kembali Alan dan Pinky, gambaran penderitaan tanpa akhir pada tokoh antagonis yang terjebak dalam siklus samsara, serta simbol benang merah yang merepresentasikan keterikatan takdir antarjiwa. Secara keseluruhan, film ini menegaskan bahwa kehidupan manusia terhubung oleh rangkaian sebab-akibat moral yang melampaui batas satu kehidupan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Till We Meet Again menarasikan nilai budaya dan spiritual melalui representasi visual yang bersifat simbolis.