Infidelity is a relational breach that undermines trust, a fundamental pillar of romantic relationships, and significantly impacts couple communication. Relationships once warm and intimate often become cautious, rigid, and laden with suspicion, while communication frequency and topics shift as couples attempt to rebuild trust through clarification, boundary-setting, and new communicative strategies. This study aims to analyze the shift from trust-based communication to surveillance-laden communication following infidelity. Using a qualitative descriptive approach, the research examines changes in post-infidelity communication patterns from trust-based to surveillance-oriented dynamics. Findings reveal that infidelity triggers significant shifts in communication dynamics, affecting frequency, quality, topics, new boundary formation, and increased digital monitoring practices. Recovery hinges on honest communication, transparency, and consistent behavioral change from the unfaithful partner. While some couples develop more reflective communication patterns, others struggle due to repeated breaches or emotional incompatibility. Perselingkuhan merupakan bentuk pelanggaran relasional yang merusak kepercayaan sebagai fondasi utama hubungan romantis dan berdampak signifikan pada komunikasi pasangan. Hubungan yang sebelumnya hangat dan akrab cenderung berubah menjadi lebih hati-hati, kaku, dan dipenuhi rasa curiga, sementara frekuensi dan topik pembicaraan mengalami pergeseran untuk menyesuaikan kebutuhan pemulihan kepercayaan melalui klarifikasi, penetapan batas, dan strategi komunikasi baru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran komunikasi berbasis kepercayaan menuju komunikasi yang sarat pengawasan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif bersifat deskriptif mengenai fenomena komunikasi pasangan pasca perselingkuhan khususnya pergeseran pola komunikasi dari berbasis kepercayaan (trust-based communication) menuju pola yang sarat pengawasan (surveillance-laden communication). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa perselingkuhan memicu perubahan signifikan dalam dinamika komunikasi pasangan, terutama terkait frekuensi, kualitas, topik percakapan, pembentukan batas baru, dan peningkatan praktik pengawasan digital. Perselingkuhan menyebabkan perubahan drastis dalam pola komunikasi pasangan, yang berubah dari hangat dan terbuka menjadi kaku dan penuh kecurigaan. Pemulihan hubungan sangat bergantung pada komunikasi yang jujur, keterbukaan, serta konsistensi perilaku dari pihak yang berselingkuh. Meskipun beberapa pasangan berhasil membangun pola komunikasi yang lebih reflektif, yang lain tetap kesulitan akibat pelanggaran berulang atau ketidakcocokan emosional.