The album Man’s Best Friend by Sabrina Carpenter sparked controversy on social media due to its cover, which features a provocative pose and an ambiguous title. This study analyzes audience reception to understand how listeners interpret the album’s visual and musical messages using Audience Reception Theory and Stuart Hall’s Encoding–Decoding model. A descriptive qualitative method with a reception case study approach was applied through in-depth interviews with four active listeners and one key informant from the music industry. The findings show that audiences occupy three reading positions: dominant-hegemonic, which accepts the album as an artistic exploration; negotiated, which agrees with the concept but questions its visual representation; and oppositional, which rejects the objectification of women. Social media platform X plays a significant role as a discursive arena where collective meaning is shaped. Audience reception is dynamic and influenced by interactions between the media text, personal context, and digital environment. The study demonstrates that audiences actively engage in meaning-making through critical interpretation based on their values and experiences. The diversity of interpretations among informants is not an inconsistency, but a reflection of the complex nature of audience reception in the digital era, characterized by high information accessibility, active online social engagement, and diverse audience backgrounds. Album Man’s Best Friend karya Sabrina Carpenter memicu kontroversi di media sosial karena sampul yang menampilkan pose kontroversial dengan judul ambigu. Analisis resepsi audiens dilakukan untuk memahami bagaimana audiens memaknai pesan visual dan musikal album menggunakan Teori Resepsi Audiens dan model Encoding–Decoding Stuart Hall. Metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus resepsi dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap empat informan pendengar aktif Sabrina Carpenter dan satu key informan dari industri musik. Hasil menunjukkan audiens menempati tiga posisi pembacaan: dominan-hegemonik yang menerima album sebagai eksplorasi artistik, negosiasi yang menerima konsep namun mempertanyakan representasi visual, dan oposisi yang menolak objektifikasi perempuan. Media sosial X berperan signifikan sebagai ruang diskusi pembentukan makna kolektif. Resepsi bersifat dinamis dan dipengaruhi interaksi antara teks media, konteks personal audiens, dan lingkungan digital. Audiens terbukti aktif dalam proses pemaknaan dengan melakukan interpretasi kritis berdasarkan nilai dan pengalaman mereka. Keberagaman interpretasi yang muncul dari keempat informan bukan merupakan anomali atau inkonsistensi, melainkan refleksi akurat dari kompleksitas resepsi audiens terhadap karya budaya populer di era digital yang ditandai oleh aksesibilitas informasi yang tinggi, interaksi sosial yang intens di media online, dan keberagaman latar belakang serta nilai yang dibawa audiens dalam proses pemaknaan.