The transformation of work culture among the younger generation has given rise to a trend known as quiet quitting, which is the limitation of work involvement as an effort to maintain boundaries between personal life and work. This phenomenon raises empirical questions about the extent to which this behavior can be explained in relation to work-life balance among Gen Z. The study aims to analyze the effect of quiet quitting on work-life balance using Job Demands-Resources (JDR) as a theoretical basis and two variables measured based on indicators from previous literature. The method used is a quantitative approach through a survey of Gen Z respondents who are already working, and the data is analyzed through simple linear regression. The results show that quiet quitting has a significant influence on work-life balance, although its contribution is not entirely dominant. These findings indicate that behaviors such as quiet quitting at work can serve as a strategy for managing work demands to maintain personal boundaries. Conceptually, this study provides a new perspective for communication studies, particularly regarding how the younger generation negotiates work expectations in modern work culture and the adjustment of employer branding strategies to be more in line with the preferences of the younger generation. Transformasi budaya kerja pada generasi muda memunculkan kecenderungan quiet quitting, yaitu pembatasan keterlibatan kerja sebagai upaya menjaga batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan empiris mengenai sejauh mana perilaku tersebut bisa dijelaskan kaitannya dengan work-life balance di kalangan Gen Z. Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh quiet quitting terhadap work-life balance dengan menggunakan Job Demans-Resources (JDR) sebagai landasan teoretis serta kedua variabel yang diukur berdasarkan indikator dari literatur terdahulu. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap responden Gen Z yang sudah bekerja kemudian data dianalisa melalui regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa quiet quitting memiliki pengaruh signifikan terhadap work-life balance, meskipun kontribusinya tidak sepenuhnya dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa perilaku seperti quiet quitting dalam pekerjaan dapat berfungsi sebagai strategi pengelolaan tuntutan kerja untuk menjaga batas personal. Secara konseptual, penelitian ini memberikan perspektif baru bagi kajian komunikasi, khususnya terkait bagaimana generasi muda menegosiasikan ekspektasi kerja dalam budaya kerja modern serta penyesuaian strategi employer branding agar lebih selaras dengan preferensi generasi muda.