Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KOMUNIKASI DALAM PEWARISAN SENI LUKIS WAYANG KACA DI DESA NAGASEPAHA KECAMATAN BULELENG KABUPATEN BULELENG Kadek Nova Pramana Putra; I Kadek Edi Palguna; I Nyoman Ariyoga Ariyoga
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.15703

Abstract

ABSTRAK Seni lukis wayang kaca di Desa Nagasepaha, Kabupaten Buleleng, merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang memiliki nilai estetika, historis, dan spiritual yang tinggi. Namun, keberlanjutannya menghadapi berbagai tantangan, khususnya terkait dengan proses regenerasi dan minimnya minat generasi muda akibat perubahan orientasi ekonomi dan karier. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pewarisan seni lukis wayang kaca bagi generasi muda, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta mendeskripsikan strategi komunikasi yang digunakan untuk mempertahankan keberlangsungan kesenian tersebut. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Penelitian ini menerapkan tiga landasan teori, yaitu Teori Pewarisan Budaya Cavalli-Sforza dan Feldman untuk melihat bentuk transmisi, Teori Komunikasi Persuasif DeFleur dan Ball-Rokeach untuk menganalisis strategi komunikasi, serta Teori Atribusi Fritz Heider untuk memahami motivasi dan perilaku pelestarian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pewarisan seni lukis wayang kaca berlangsung melalui tiga pola transmisi, yaitu transmisi vertikal (keluarga), horizontal (teman sebaya), dan miring/oblique (seniman kepada generasi muda); (2) strategi komunikasi persuasif diterapkan secara terencana, sistematis, berorientasi pada audiens, serta disesuaikan dengan kemampuan peserta guna menumbuhkan kesadaran dan minat generasi muda; dan (3) tantangan pelestarian seperti terbatasnya jumlah pelukis dan kurang rutinnya kegiatan sanggar dipengaruhi oleh faktor internal (kesadaran dan tanggung jawab pribadi) serta faktor eksternal (dukungan lingkungan dan ruang kegiatan). Dengan demikian, keberlanjutan seni lukis wayang kaca memerlukan sinergi antara proses pewarisan yang berkelanjutan, strategi komunikasi yang adaptif, serta dukungan eksternal yang aktif.   ABSTRACT Glass wayang painting in Nagasepaha Village, Buleleng Regency, is an intangible cultural heritage possessing high aesthetic, historical, and spiritual values. However, its sustainability faces various challenges, particularly regarding generational renewal and the diminishing interest of the younger generation due to shifting economic and career orientations. This study aims to analyze the forms of cultural transmission of glass wayang painting to the younger generation, identify the obstacles encountered, and describe the communication strategies employed to maintain the continuity of this traditional art. Utilizing a qualitative method with a descriptive approach, data collection was conducted through observation, semi-structured interviews, and documentation. This research applies three theoretical frameworks: Cavalli-Sforza and Feldman’s Cultural Transmission Theory to examine transmission patterns, DeFleur and Ball-Rokeach’s Persuasive Communication Theory to analyze communication strategies, and Fritz Heider’s Attribution Theory to understand preservation behaviors and motivations. The results indicate that: (1) the transmission of glass wayang painting occurs through three patterns vertical (family), horizontal (peers), and oblique (artists to the younger generation); (2) persuasive communication strategies are applied in a planned, systematic, audience-oriented manner tailored to participants' abilities to foster awareness and interest among youth; and (3) preservation challenges, such as the limited number of painters and infrequent studio activities, are influenced by internal factors (personal awareness and responsibility) and external factors (environmental support and activity spaces). Consequently, the sustainability of glass wayang painting requires synergy among continuous cultural transmission, adaptive communication strategies, and active external support.