Kelompok Wanita Tani (KWT) “Mandiri” Tegalrejo, Magelang, menghadapi tantangan rendahnya pemanfaatan telur sebagai sumber protein hewani, meskipun ketersediaannya melimpah dan harganya terjangkau. Kondisi ini berimplikasi pada masih terbatasnya pengetahuan gizi, munculnya miskonsepsi seputar konsumsi telur, serta keterampilan pengolahan pangan yang belum optimal di kalangan anggota. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Kelompok Wanita Tani (KWT) “Mandiri” Tegalrejo, Magelang, dengan tujuan meningkatkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan anggota dalam mengonsumsi serta memanfaatkan telur sebagai sumber protein hewani. Sosialisasi dilakukan melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, demonstrasi pengolahan sederhana, serta evaluasi menggunakan instrumen sikap (skala Likert), pengetahuan (tes benar–salah), dan keterampilan (self-assessment). Hasil menunjukkan bahwa mayoritas peserta memiliki sikap positif terhadap konsumsi telur (rata-rata skor 4,16; 95% kategori positif), pengetahuan tinggi (65% kategori tinggi, meskipun masih terdapat 20% kategori rendah), serta keterampilan baik (rata-rata skor 3,61; 100% kategori baik). Temuan ini menegaskan bahwa sosialisasi gizi berbasis pangan lokal efektif dalam meningkatkan kesadaran gizi, meluruskan miskonsepsi, dan memperkuat kebiasaan konsumsi pangan bergizi. Selain itu, kegiatan ini berimplikasi pada pemberdayaan ekonomi rumah tangga melalui peningkatan kapasitas kelompok wanita tani dalam mengolah dan memasarkan produk berbasis telur. Dengan demikian, program sosialisasi gemar makan telur dapat dijadikan model edukasi gizi sekaligus strategi pemberdayaan perempuan pedesaan yang relevan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga dan pencegahan stunting.