Pendapatan petani kelapa sawit dipengaruhi oleh kemampuan petani mengelola faktor produksi, terutama luas lahan, biaya produksi, modal, dan hasil produksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh keempat faktor tersebut terhadap pendapatan petani kelapa sawit di Kampung Biatan Bapinang, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif dan data primer yang diperoleh melalui survei terhadap 30 petani kelapa sawit. Karena seluruh populasi yang berjumlah 30 petani dijadikan responden, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel jenuh. Analisis dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS versi 25.0. Hasil estimasi menunjukkan bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan (B = 11,822; t = 3,843; p < 0,001), sedangkan biaya produksi juga berpengaruh positif dan signifikan (B = 50,270; t = 5,436; p < 0,001). Modal berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan (B = −2,506; t = −1,758; p = 0,091), dan hasil produksi berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan (B = −0,179; t = −0,412; p = 0,684). Model memiliki R² sebesar 0,813 dan adjusted R² sebesar 0,783, sedangkan uji simultan menunjukkan model signifikan (F = 27,197; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa variasi pendapatan dalam sampel lebih kuat terkait dengan luas lahan dan alokasi biaya produksi. Namun, koefisien positif biaya produksi tidak dapat ditafsirkan sebagai bahwa kenaikan biaya selalu meningkatkan pendapatan; interpretasinya harus ditempatkan dalam konteks efisiensi dan produktivitas penggunaan input. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa pengelolaan lahan dan biaya produksi perlu diarahkan pada penggunaan input yang produktif dan efisien.