The resistance of indigenous women plays a crucial role in maintaining a spiritual-ecological relationship with the surrounding environment. In Mollo, located in East Nusa Tenggara, Indonesia, Mama Aleta Baun have led the indigenous community's struggle against the expansion of a marble mine that has destroyed the indigenous forest ecosystem and the community's territory. This resistance is carried out in a unique way, not using violence or formal channels such as law, but through cultural practices, namely weaving. This study aims to understand how indigenous Mollo women interpret weaving activities as a form of cultural and political resistance against the threat posed by mining companies. In order to explore the narrative, symbolism, and meaning of the Mollo indigenous women’s movement against marble mining, this research employs a qualitative approach using thematic content analysis. The analysis was conducted using an ecofeminist approach to delve deeper into the symbolic meaning of weaving practices and the role of women in maintaining the natural ecology in Mollo region. The results indicate that weaving is a passive resistance strategy that carries a range of highly spiritual symbolic meanings. The weaving demonstrated by indigenous women expresses ecological knowledge, traditional values, and the sovereignty of their ancestral lands. The woven threads serve as a critique of exploratory development models and as a means to strengthen the cultural and spiritual identity of the Mollo indigenous community. Mama Aleta Baun's struggle serves as concrete evidence that local culture and spiritual beliefs can be a powerful force in ecofeminist-based environmental movements. ABSTRACT INSONESIANPerlawanan perempuan dalam masyarakat adat memiliki peran penting dalam menjaga hubungan spiritual-ekologis dengan alam sekitar. Di daerah Mollo, tepatnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), perempuan seperti Mama Aleta Baun memimpin perjuangan masyarakat adat melawan ekspansi tambang marmer yang merusak ekosistem hutan adat dan kehidupan masyarakat adat. Perlawanan ini dilakukan dengan cara yang terbilang unik, bukan melalui kekerasan atau jalur formal seperti hukum, melainkan melalui praktik budaya, yaitu menenun. Untuk mengeksplorasi narasi, simbolisme, dan makna gerakan perempuan adat Mollo dalam menentang penambangan marmer, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten tematik. Analisis tersebut dilakukan menggunakan pendekatan ekofeminisme guna mendalami makna simbolis praktik menenun serta peran perempuan dalam menjaga ekologi alam di wilayah Mollo. Analisis dilakukan dengan pendekatan ekofeminisme untuk menggali lebih dalam makna simbolik dari praktik menenun serta peran perempuan dalam menjaga ekologis alam di wilayah Mollo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menenun merupakan langkah strategi perlawanan pasif yang dilakukan dengan berbagai makna simbolik yang sangat spiritual. Menenun yang di perlihatkan oleh perempuan adat Mollo dimunculkan dengan mengekspresikan pengetahuan ekologis, nilai adat, dan kedaulatan adat tanah leluhur mereka. Benang tenun menjadi bentuk kritik terhadap model pembangunan yang eksploratif serta cara untuk menguatkan identitas budaya dan spiritual komunitas adat Mollo. Sehingga pada akhirnya, perjuangan Mama Aleta Baun menjadi bukti nyata bahwa budaya dan spiritualisme kepercayaan lokal dapat menjadi kekuatan besar dalam gerakan lingkungan berbasis ekofeminisme.