Penelitian ini bertujuan menganalisis dakwah digital yang semakin bergantung pada platform media sosial untuk menjangkau generasi muda muslim. Jika penelitian terdahulu lebih banyak menekankan adaptasi teknologi, kreativitas konten, dan peningkatan keterlibatan audiens, perhatian terhadap perubahan kondisi audiens yang mengalami kelelahan dalam lingkungan digital yang semakin padat masih relatif terbatas. Penelitian ini mengkaji digital fatigue pada Generasi Z muslim serta implikasinya terhadap kebutuhan reorientasi dakwah digital. Penelitian dirancang menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis melalui wawancara semi-terstruktur terhadap Generasi Z muslim pengguna aktif media sosial yang secara berkala terpapar konten keagamaan digital. Data dianalisis menggunakan reflexive thematic analysis untuk mengidentifikasi pola kelelahan digital, keterlibatan terhadap konten dakwah, selektivitas penggunaan media, dan preferensi terhadap bentuk dakwah kontemporer. Kerangka analitis penelitian menunjukkan bahwa digital fatigue tidak seharusnya secara langsung dimaknai sebagai menurunnya minat terhadap agama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelelahan dapat bersumber dari kelimpahan informasi, fragmentasi perhatian, repetisi konten, stimulasi emosional, dan karakter arsitektur platform digital. Kondisi tersebut berpotensi mendorong pergeseran dari paparan keagamaan yang tinggi menuju keterlibatan religius yang lebih selektif dan disengaja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dakwah yang menekankan sensitivitas terhadap perhatian audiens, kedalaman pesan, kepedulian emosional, dan komunikasi yang bersifat restoratif secara spiritual.