Charles Butar-butar
Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DINAMIKA NEOLOGISME DAN PENYERAPAN LEKSIKON KESEHATAN DALAM TUTUR AKADEMIS: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK ADAPTASI BAHASA DENGAN PENUTURNYA Syamsuyirnita, Syamsuyirnita; Charles Butar-butar
Jurnal Cinta Nusantara Vol. 4 No. 3 (2026): Juli-September, Synergy of Research and Community Service for Community Empower
Publisher : CV. Bunda Ratu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63754/jcn.v4i3.226

Abstract

Penetrasi istilah medis dan krisis kesehatan global akibat pandemi secara masif mendorong lahirnya fenomena neologisme serta pergeseran perbendaharaan kata dalam masyarakat tutur akademis1. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika neologisme, mekanisme penyerapan leksikon kesehatan asing, serta bentuk adaptasi sosiolinguistik mahasiswa dalam menginternalisasi istilah-istilah kenormalan baru. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiolinguistik terapan. Data diperoleh melalui studi dokumentasi pedoman kesehatan dan wawancara terhadap mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Analisis data menerapkan metode padan translasional, ortografis, dan referensial menggunakan teknik pilah unsur penentu1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leksikon kesehatan yang terserap terbagi ke dalam tiga kategori utama: kondisi klinis (seperti asimtomatik, anosmia, ageusia, hipoksia), tindakan non-farmakologis (physical distancing, hand sanitizer, isolasi mandiri, kohorting), serta istilah farmakologis (azitromisin, favipiravir, fitofarmaka, OMAI). Mekanisme penyerapan terjadi melalui adopsi langsung, adaptasi ortografis, penerjemahan padanan, dan pengakroniman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mahasiswa berperan sebagai agen inovasi kebahasaan (linguistic innovators) yang menjembatani istilah teknis medis menjadi wacana sosial harian, sehingga mengikis kegamangan komunikasi masyarakat di era kenormalan baru