Penetrasi istilah medis dan krisis kesehatan global akibat pandemi secara masif mendorong lahirnya fenomena neologisme serta pergeseran perbendaharaan kata dalam masyarakat tutur akademis1. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika neologisme, mekanisme penyerapan leksikon kesehatan asing, serta bentuk adaptasi sosiolinguistik mahasiswa dalam menginternalisasi istilah-istilah kenormalan baru. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiolinguistik terapan. Data diperoleh melalui studi dokumentasi pedoman kesehatan dan wawancara terhadap mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Analisis data menerapkan metode padan translasional, ortografis, dan referensial menggunakan teknik pilah unsur penentu1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leksikon kesehatan yang terserap terbagi ke dalam tiga kategori utama: kondisi klinis (seperti asimtomatik, anosmia, ageusia, hipoksia), tindakan non-farmakologis (physical distancing, hand sanitizer, isolasi mandiri, kohorting), serta istilah farmakologis (azitromisin, favipiravir, fitofarmaka, OMAI). Mekanisme penyerapan terjadi melalui adopsi langsung, adaptasi ortografis, penerjemahan padanan, dan pengakroniman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mahasiswa berperan sebagai agen inovasi kebahasaan (linguistic innovators) yang menjembatani istilah teknis medis menjadi wacana sosial harian, sehingga mengikis kegamangan komunikasi masyarakat di era kenormalan baru
Copyrights © 2026