Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena perilaku agresif seperti verbal, fisik, relasional pada peserta didik disalah satu sekolah menengah pertama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran guru BK dalam mengatasi perilaku agresif tersebut, yang difokuskan pada: (1) perencana program BK, (2) pemberi layanan konseling, (3) agen perubahan, dan (4) penghubung dan kolaborator. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melibatkan 5 informan (2 informan kunci dan 3 informan tambahan). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam serta studi dokumentasi, lalu dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: (1) perencana program diwujudkan melalui penyusunan PROTA-PROSEM berbasis data hasil need assessment (AKPD dan Buku Kasus BK); (2) pemberi layanan konseling terlaksana secara terdiferensiasi (agresi fisik via konseling individual fokus anger management, agresi verbal via bimbingan klasikal/kelompok teknik CBT dan bagan analisis pohon) dengan evaluasi kualitatif proses yang dicermati melalui indikator LAZEG (Understanding, Comfort, Action) ; (3) agen perubahan berhasil mereposisi citra guru BK dari 'polisi sekolah' menjadi mitra humanis-edukatif melalui penciptaan safe space, role modeling, dan apresiasi progres kecil; (4) penghubung dan kolaborator diimplementasikan melalui sinergi internal bersama wali kelas sebagai sistem deteksi dini serta kolaborasi eksternal (joint action plan dengan orang tua, case conference, serta rujukan/referral ke Bhabinkamtibmas dan Psikolog/Puskesmas saat melampaui threshold limit sekolah). Intervensi terbukti terlaksana secara optimal dalam memfasilitasi penumbuhan self-awareness peserta didik untuk memutus rantai konflik secara mandiri.