Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pemanfaatan Limbah Peternakan sebagai Bahan Baku Pupuk Kompos Organik Ramah Lingkungan di Desa Ambapa, Kecamatan Tinondo, Kolaka Timur Syahrul Syahrul; Muh. Fahrul; I Bagus Alit Umbara Sastra; Asra Noftaviani; Atia Rahma Trimurti; Annisa Ramdani; Andi Revalina; Maulid Fiana; Ifal Fradesta; Alya Firani; Siska Siska; Muh. Iyan Alfarizik; Laela Nur Dwi Khasanah; Muh. Iswan Tahir
Abdimas Toddopuli: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2026): Volume 8, No 1, Desember 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/szjmk836

Abstract

Di wilayah pedesaan, aktivitas peternakan sering menghasilkan limbah kotoran hewan dalam jumlah besar yang belum dikelola secara optimal. Kondisi ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Di sisi lain, harga pupuk kimia yang terus naik membuat kesuburan tanah milik petani semakin menurun. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Tim KKN USN Kolaka hadir untuk memberikan edukasi dan pelatihan kepada warga Desa Ambapa terkait pemanfaatan kotoran sapi dan limbah serbuk kayu menjadi pupuk organik. Selain ramah lingkungan, pupuk ini juga diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Metode yang digunakan yaitu sosialisasi, praktik langsung pembuatan pupuk, dan pendampingan berkelanjutan. Teknologi yang diterapkan tergolong sederhana. Bahan utamanya adalah kotoran sapi kering yang dicampur dengan abu dari pembakaran serbuk gergaji. Campuran bahan padat ini kemudian diaplikasikan ke tanaman dengan cara dikombinasikan dengan air. Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta yang terdiri dari peternak dan petani Desa Ambapa. Berdasarkan hasil evaluasi, tingkat pemahaman dan keterampilan peserta meningkat signifikan dari 45% menjadi 88%. Kini masyarakat sudah mampu mengolah limbah kotoran sapi secara mandiri. Secara umum, inovasi penggunaan kotoran sapi kering dan abu serbuk kayu terbukti mampu menghasilkan pupuk alternatif, menekan biaya produksi pertanian, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan desa yang lebih bersih