Erna Tungga Dewi
Program Keahlian Kuliner SMKN 3 Malang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Komparasi YouTube dan TikTok terhadap Kemampuan Kognitif Murid pada Pembelajaran Patiseri Kue Indonesia Yuliana Dwi Pratiwi; Lismi Animatul Chisbiyah; Erna Tungga Dewi
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 8, No 5 (2026): In Progress
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/edukatif.v8i5.9419

Abstract

Keterbatasan waktu pembelajaran Patiseri Kue Indonesia mendorong pemanfaatan video tutorial sebagai sumber belajar mandiri. YouTube dan TikTok memiliki karakteristik penyajian berbeda yang berpotensi memengaruhi capaian kognitif murid. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kemampuan kognitif murid setelah menggunakan video tutorial YouTube dan TikTok. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi-experiment dan desain Nonequivalent Multiple Experimental Group Design. Subjek penelitian berjumlah 34 murid kelas XI Kuliner SMKN 3 Malang yang terbagi dalam dua kelompok eksperimen, masing-masing 17 murid. Kedua kelompok memperoleh materi dan tujuan pembelajaran yang sama dengan media video berbeda. Kemampuan kognitif diukur menggunakan tes berdasarkan Taksonomi Bloom revisi pada level C3–C6 melalui pre-test dan post-test. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan Independent Samples t-Test serta ANCOVA dengan pre-test sebagai kovariat. Hasil menunjukkan rata-rata pre-test kedua kelompok sebesar 68,24, sedangkan rata-rata post-test kelompok YouTube sebesar 97,65 dan TikTok sebesar 88,24. Hasil ANCOVA menunjukkan perbedaan signifikan pada skor post-test setelah kemampuan awal dikendalikan, F(1,31) = 20,306; p < 0,001. Kelompok YouTube memperoleh capaian kognitif lebih tinggi pada konteks materi yang diteliti. Pemilihan media perlu disesuaikan dengan karakteristik materi; YouTube berpotensi mendukung materi prosedural kompleks, sedangkan TikTok dapat dipertimbangkan untuk penguatan atau microlearning.