Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tradisi Tadarus Musiman sebagai Resepsi Al-Qur'an: Praktik Kiriman Doa bagi Leluhur di Desa Karang Anyar Kabupaten Nagan Raya Hanif Hanif; Nurlismawati Nurlismawati; Muhammad Faisal; Muhammad Firdaus; Hizbullah Alhassan Aliyu; Zulia Rahmi binti Yunus
Jimmi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin Vol. 3 No. 3 (2026): JIMMI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/jimmi.v3i3.626

Abstract

Tradisi pembacaan Al-Qur'an dalam masyarakat Muslim tidak hanya merefleksikan praktik ibadah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana wahyu dihidupkan dan dimaknai dalam konteks sosial-budaya. Salah satu manifestasinya adalah tradisi tadarus musiman di Desa Karang Anyar, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, yang diselenggarakan menjelang Ramadan sebagai kiriman doa bagi leluhur. Meskipun berbagai penelitian telah membahas praktik pembacaan Al-Qur'an dalam perspektif Living Qur'an, kajian mengenai tadarus musiman sebagai bentuk resepsi fungsional yang mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan budaya masih relatif terbatas. Penelitian ini mengkaji makna, fungsi, dan konstruksi tradisi tadarus musiman dalam perspektif Living Qur'an. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-interpretatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis memperlihatkan bahwa tadarus musiman tidak sekadar dipraktikkan sebagai pembacaan Al-Qur'an untuk menghadiahkan pahala kepada leluhur, tetapi juga merepresentasikan resepsi fungsional terhadap Al-Qur'an yang membangun komunikasi spiritual lintas generasi, memperkuat kohesi sosial, serta mengintegrasikan nilai-nilai Qur'ani dengan budaya lokal Aceh. Temuan ini menegaskan bahwa Al-Qur'an tidak hanya hadir sebagai teks normatif, tetapi juga sebagai living text yang memperoleh makna melalui praktik sosial-keagamaan masyarakat. Dengan demikian, penelitian ini memperluas horizon kajian Living Qur'an dengan menunjukkan bahwa resepsi terhadap Al-Qur'an berperan dalam membentuk identitas religius, memori kolektif, dan keberlanjutan tradisi dalam komunitas Muslim lokal.
Dekonstruksi Patriarki dalam Tafsir Al-Qur’an Perspektif Qiraah Tarikhiyyah dan Qiraah Unasiyyah Muhammad Thalbi Muhammad Firdaus; Syamsuar Syamsuar; Hanif Hanif; Ahmad Salihu Amin
WATHAN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 3 No 3 (2026): WATHAN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/wathan.v3i3.632

Abstract

Isu kesetaraan gender dalam Islam kerap memicu perdebatan di kalangan akademisi, terutama terkait interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an tentang relasi laki-laki dan perempuan. Sebagian pihak menganggap Islam mengandung diskriminasi terhadap perempuan, sementara yang lain menegaskan prinsip kesetaraan. Muhammad Thalbi memperkenalkan metode Qirâah Târîkhiyyah wa Qirâah Unâsiyyah (historis humanistis) untuk menganalisis isu gender secara kontekstual. Berdasarkan studi kepustakaan, penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan historis humanistik tidak hanya menekankan aspek hukum, tetapi juga menyoroti nilai kemanusiaan dalam Al-Qur’an yang mendukung perlindungan dan pemberdayaan perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dengan memperhatikan konteks sejarah dan sosial terkait peran perempuan dalam ruang publik, pembagian waris, dan kesaksian, pendekatan ini menghindari anachronisme, yakni menilai masa lalu dengan standar masa kini, sehingga menghasilkan tafsiran yang lebih adil. Metode ini juga memperkuat objektivitas dan inklusivitas dalam penafsiran, membuka ruang diskusi yang memperluas pemahaman terhadap realitas sosial dan eksistensi perempuan. Qirâah Târîkhiyyah wa Qirâah Unâsiyyah menekankan lebih dari sekadar aspek hukum, ia menggali nilai humanis Al-Qur’an yang menekankan perlindungan dan pemberdayaan perempuan.