Insyiroh Rasikhah Burhan Gading
Universitas Negeri Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS KEBUTUHAN MODUL PSIKOEDUKASI BERBASIS SELF-LOVE UNTUK MENINGKATKAN SUBJECTIVE WELL-BEING SISWA SMA Insyiroh Rasikhah Burhan Gading; Akhmad Harum; M. Amirullah; Qawiyyan Fitri
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.13377

Abstract

ABSTRACT This study was motivated by the high prevalence of mental health issues and low subjective well-being (SWB) among adolescents, particularly high school students, as evidenced by anxiety, stress, and difficulty managing negative emotions. The purpose of this study is to conduct a needs analysis for the development of a self-love-based psychoeducation module aimed at improving students’ SWB. The method used was a descriptive approach combining quantitative and qualitative techniques (descriptive mixed-methods) in the form of a needs assessment as the initial stage (front-end analysis) of the Lee & Owens R&D model framework. The study subjects included 33 students from Class XI-B and a guidance counselor at State High School 11 Gowa, selected through purposive sampling. Data collection instruments included a structured interview guide and a Likert-scale needs analysis questionnaire. Findings from the interviews revealed that students frequently experience test anxiety, academic stress, low self-confidence, and difficulty managing negative emotions. It was also found that existing guidance and counseling services are still dominated by lecture-based methods, and there are no self-paced learning modules available for students to review on their own. The survey results reinforce these findings, with the percentage of need for the material ranging from 85% to 95% (classified as “highly needed”), particularly regarding recognizing one’s potential and reducing stress. Regarding media formats, students preferred printed modules (84%) with attractive visual designs, clear font sizes, and simple language over digital media (60%). The study’s conclusions indicate that the development of self-love-based psychoeducational modules is an urgent and relevant need for improving subjective well-being. ABSTRAK Tingginya prevalensi masalah kesehatan mental dan rendahnya subjective well-being (SWB) pada remaja, khususnya siswa SMA, yang ditandai dengan kecemasan, stres, dan kesulitan mengelola emosi negatif. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kebutuhan pengembangan modul psikoedukasi berbasis self-love guna meningkatkan SWB siswa. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan kombinasi teknik kuantitatif dan kualitatif (descriptive mixed-method) dalam bentuk need assessment sebagai tahap awal (front-end analysis) kerangka R&D model Lee & Owens. Subjek penelitian melibatkan 33 siswa kelas XI-B dan guru BK di SMA Negeri 11 Gowa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data meliputi pedoman wawancara terstruktur dan angket analisis kebutuhan berskala Likert. Hasil identifikasi melalui wawancara menunjukkan bahwa siswa sering mengalami kecemasan menghadapi ujian, stres akademik, rendahnya kepercayaan diri, serta kesulitan mengelola emosi negatif. Ditemukan pula bahwa layanan BK yang ada masih didominasi metode ceramah dan belum tersedia media modul mandiri yang dapat dipelajari kembali oleh siswa. Hasil angket memperkuat temuan ini dengan persentase kebutuhan materi antara 85% hingga 95% (kategori sangat dibutuhkan), terutama pada aspek mengenali potensi diri dan mengurangi stres. Pada aspek media, siswa lebih membutuhkan modul dalam bentuk cetak (84%) dengan desain visual menarik, ukuran huruf jelas, dan bahasa sederhana dibandingkan media digital (60%). Simpulan penelitian menunjukkan bahwa pengembangan modul psikoedukasi berbasis self-love merupakan kebutuhan mendesak dan relevan untuk meningkatkan subjective well-being.