Gedung Main Power House (MPH) 2 Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai merupakan fasilitas vital penyuplai daya sistem Airfield Lighting (AFL) dan navigasi yang berada di wilayah pesisir dengan aktivitas petir tinggi (Td = 72 hari/tahun). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat efektivitas sistem proteksi petir eksisting, menganalisis pengaruhnya terhadap kontinuitas operasional kelistrikan, serta mengidentifikasi faktor-faktor penentu kinerjanya berdasarkan standar SNI 03-7015-2004, NF C 17-102:2011, PUIL 2020, dan IEEE Std 142-2007. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui observasi fisik gedung (55 m × 20 m × 22 m), pengukuran langsung tahanan pembumian pada 3 titik elektroda kedalaman 6 meter menggunakan Digital Earth Tester Kyoritsu 4105A, kajian logbook operasional 2023–2026, dan komputasi matematis evaluasi risiko. Metode ini dipilih karena mampu memadukan data lapangan aktual dengan perhitungan standar sehingga menghasilkan penilaian efektivitas yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa gedung memerlukan proteksi Tingkat I (LPL I) dengan efisiensi E = 99,95% (Nd = 0,2052 > Nc = 0,00010). Pemasangan 1 unit air terminal ESE KURN R150 (h = 3 m) menghasilkan radius proteksi Rp = 47,15 m yang menaungi seluruh atap gedung (R_terjauh = 29,26 m) tanpa titik buta. Kabel BC High Voltage 1 × 50 mm² terbukti mengeliminasi loncatan api samping (side flashing) dan meredam radiasi LEMP. Pengukuran pembumian menghasilkan nilai rata-rata 0,35 Ω (memenuhi batas aman ≤ 5,0 Ω), didukung koordinasi SPD Tipe 2 OBO V25-B+C (In = 30 kA, Up ≤ 1,5 kV) dan Main Earth Bar (MEB). Efektivitas sistem proteksi terbukti menjamin keandalan suplai listrik bandara dengan catatan zero outage (0 kali pemadaman suplai AFL) selama periode pengamatan 2023–2026. Disimpulkan bahwa sistem penyalur petir Gedung MPH 2 bekerja efektif 100% memenuhi standar dan andal mengamankan operasional penerbangan 24 jam nonstop.