Latar Belakang: Kesalahan pada tahap pra-analitik masih menjadi tantangan utama dalam pelayanan laboratorium karena dapat memengaruhi keakuratan hasil pemeriksaan dan keselamatan pasien. Oleh karena itu, penguatan kompetensi Tenaga Teknologi Laboratorium Medik (TTLM) dalam proses validasi dan verifikasi pra-analitik diperlukan untuk menjamin mutu pelayanan laboratorium yang konsisten. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi TTLM, mutu pelayanan laboratorium, serta hambatan pengembangan kompetensi pada proses pra-analitik di UPTD Laboratorium Kesehatan Kota Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal yang melibatkan delapan informan, terdiri atas enam TTLM, satu Kepala Instalasi, dan satu Penanggung Jawab Mutu. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi nonpartisipan, dan telaah dokumen. Analisis data dilakukan melalui proses pengodean, triangulasi, dan analisis SWOT. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi TTLM telah terbentuk, tetapi penerapannya belum merata. Hambatan utama meliputi ketidakkonsistenan penerapan SOP, keterbatasan akses pelatihan dan sertifikasi, beban kerja tinggi, serta belum optimalnya sistem mentoring dan asesmen kompetensi. Analisis SWOT menunjukkan posisi organisasi berada pada kuadran Strength–Opportunity yang mendukung penyusunan strategi pengembangan kompetensi terintegrasi. Kesimpulan: Model pengembangan kompetensi TTLM yang direkomendasikan mencakup pemetaan kompetensi, pelatihan dan sertifikasi terarah, mentoring-supervisi, asesmen berkala, serta evaluasi mutu untuk meningkatkan kualitas proses pra-analitik dan keselamatan pasien. Validasi lebih lanjut pada laboratorium lain diperlukan untuk menguji penerapan model secara lebih luas.