Penelitian ini berangkat dari kecenderungan kajian gaya bahasa puisi yang masih menempatkan majas terutama sebagai unsur estetis, sementara perannya sebagai mekanisme pergeseran makna belum banyak dijelaskan secara mendalam. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk dan fungsi gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan puisi Jalan Keempat karya M. Faizi serta menjelaskan bagaimana simile, metafora, personifikasi, dan depersonifikasi membentuk pergeseran makna dari ranah literal menuju pengalaman batin, spiritual, relasional, dan sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan dan perspektif stilistika. Sumber data primer berupa 34 puisi terpilih dari 40 puisi dalam Jalan Keempat, sedangkan data dianalisis melalui identifikasi, klasifikasi, interpretasi konteks, dan pembacaan hubungan antara bentuk gaya bahasa dan perubahan maknanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 49 data gaya bahasa perbandingan yang terdiri atas 6 simile, 26 metafora, 13 personifikasi, dan 4 depersonifikasi. Metafora menjadi bentuk paling dominan dan berfungsi memindahkan makna dari objek konkret menuju pengalaman emosional dan batiniah. Simile menegaskan asosiasi makna melalui perbandingan eksplisit, personifikasi menghidupkan benda-benda keseharian sebagai medium refleksi spiritual, sedangkan depersonifikasi mengaburkan batas antara manusia, benda, teks, dan aktivitas mekanis. Penelitian menyimpulkan bahwa gaya bahasa perbandingan dalam Jalan Keempat tidak semata berfungsi dekoratif, tetapi menjadi strategi puitik untuk mengonstruksi makna yang berlapis. Kebaruan penelitian terletak pada pemetaan empat gaya bahasa perbandingan sebagai mekanisme sistematis pergeseran makna, sehingga memperluas kajian stilistika terhadap puisi M. Faizi dari klasifikasi bentuk menuju fungsi pembentukan makna. Temuan ini berkontribusi pada penguatan analisis stilistika yang menghubungkan pilihan figuratif dengan proses konseptualisasi pengalaman, sehingga pembacaan puisi tidak berhenti pada inventarisasi jenis majas semata.