Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fungsi Simbolik Bahasa Gaul dalam Interaksi Sosial Siswa SMP Negeri 3 Omben Ilyas; Harsono
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 4 (2026): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i4.3003

Abstract

Bahasa gaul pada remaja tidak sekadar menjadi variasi nonformal, tetapi juga berfungsi sebagai simbol sosial yang membentuk keakraban, identitas, dan batas kelompok dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk, makna simbolik, dan fungsi sosial bahasa gaul yang digunakan siswa SMP Negeri 3 Omben dalam konteks sosio-kultural pedesaan Madura. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis-interaksionis dan kerangka interaksi simbolik Herbert Blumer. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan, wawancara semi-terstruktur terhadap 15 siswa serta guru, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa gaul dibentuk melalui penyingkatan, pergeseran makna, penyerapan istilah populer dan bahasa asing, serta integrasi unsur lokal Madura. Secara simbolik, bahasa gaul menjalankan tiga fungsi utama, yaitu memperkuat keakraban dan solidaritas kelompok, menegaskan identitas remaja yang adaptif terhadap budaya populer, serta membangun batas sosial dan ruang privasi dari figur otoritas. Siswa juga menunjukkan kesadaran situasional dengan menyesuaikan ragam bahasa menurut mitra tutur dan konteks interaksi. Penelitian menyimpulkan bahwa bahasa gaul merupakan mekanisme simbolik yang aktif dalam pengelolaan relasi sosial remaja. Kebaruan penelitian terletak pada pembacaan bahasa gaul sebagai praktik simbolik dalam persinggungan budaya lokal Madura dan budaya populer digital. Kontribusinya memperluas kajian sosiolinguistik remaja pedesaan sekaligus memberikan dasar pedagogis bagi pembelajaran bahasa yang menekankan ketepatan konteks, kesadaran ragam, dan kompetensi komunikatif. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kelompok sebaya, media sosial, dan budaya lokal bekerja bersama dalam pembentukan simbol bahasa, sehingga pemaknaan bahasa gaul perlu ditempatkan pada hubungan antara pilihan linguistik, situasi tutur, dan struktur sosial sekolah secara kontekstual.