Puisi bertema etnik tidak hanya menghadirkan simbol budaya, tetapi juga membangun nilai melalui hubungan manusia dengan Tuhan, alam, masyarakat, sesama, dan diri sendiri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai budaya serta menjelaskan keterkaitan antarnilai dalam enam belas puisi pada Antologi Puisi Etnik Nusantara Pelajar ASEAN. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif, jenis penelitian kepustakaan, dan pendekatan antropologi sastra. Data berupa kata, frasa, larik, dan bait dikumpulkan melalui pembacaan intensif, pembacaan analitik, dan pencatatan, kemudian dianalisis melalui identifikasi, klasifikasi berdasarkan lima pola hubungan manusia dalam kerangka Djamaris, deskripsi, dan interpretasi kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan nilai ketaatan dan kepasrahan kepada Tuhan; keterikatan, pemanfaatan, dan tanggung jawab terhadap alam; penghargaan terhadap adat, identitas, dan persatuan; keramahtamahan, persaudaraan, serta kasih keluarga; serta keteguhan dan kesabaran diri. Nilai-nilai tersebut saling bertaut melalui tenun, tarian, makanan, benteng, lanskap, citraan, personifikasi, metafora, dan pernyataan evaluatif. Penelitian juga menunjukkan bahwa kehadiran simbol budaya tidak otomatis membuktikan praktik sosial, keyakinan pengarang, atau keberhasilan pelestarian karena interpretasi harus tetap mengikuti kekuatan bukti tekstual. Penelitian menyimpulkan bahwa nilai budaya dalam puisi dibangun secara relasional melalui bahasa figuratif dan konteks bait. Kebaruan penelitian terletak pada penggabungan klasifikasi nilai, analisis penanda kebahasaan, dan pembacaan keterkaitan antarnilai dengan batas interpretasi yang eksplisit. Kontribusinya ialah menyediakan model pembacaan sastra yang lebih terukur, peka budaya, dan berbasis bukti tekstual untuk pengembangan kajian antropologi sastra serta pembelajaran apresiasi puisi. Pendekatan ini menempatkan puisi sebagai representasi budaya yang perlu ditafsirkan secara hati-hati, sehingga simbol etnik, pengalaman lokal, dan orientasi nilai dapat dijelaskan tanpa mengubah ungkapan puitik menjadi fakta sosial langsung.