Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang sering menyebabkan gangguan fungsi respirasi akibat akumulasi sekret pada saluran napas sehingga meningkatkan frekuensi pernapasan dan memperberat kerja pernapasan. Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) merupakan intervensi nonfarmakologis yang bertujuan meningkatkan ventilasi paru dan membantu mobilisasi sekret sehingga diharapkan dapat memperbaiki pola pernapasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Active Cycle of Breathing Technique terhadap frekuensi pernapasan pada pasien tuberkulosis paru di Rumah Sakit Empat Lawang. Penelitian menggunakan desain pre-experimental one-group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien tuberkulosis paru yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Intervensi ACBT diberikan selama tiga hari berturut-turut, satu sesi setiap hari dengan durasi 20–30 menit. Frekuensi pernapasan diukur sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik sesuai distribusi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden mengalami takipnea (90,0%), sedangkan setelah intervensi sebanyak 63,3% responden berada pada kategori frekuensi pernapasan normal. Rerata frekuensi pernapasan menurun dari 25,00 kali/menit menjadi 20,83 kali/menit setelah pemberian ACBT. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara sebelum dan sesudah intervensi (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa ACBT efektif memperbaiki frekuensi pernapasan pada pasien tuberkulosis paru. Active Cycle of Breathing Technique dapat dipertimbangkan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman, sederhana, dan mudah diterapkan untuk mendukung peningkatan fungsi respirasi pada pasien tuberkulosis paru.