Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

OPTIMALISASI PERAN PERAWAT DALAM PENERAPAN MASSAGE EFFLEURAGE DAN PETRISSAGE PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN NYERI KEPALA Risdayanti Raharjeng; Aris Citra Wisuda; Raden Surahmat; Citra Suraya; Ayu Devita Citra Dewi
Jurnal Pengabdian Masyarakat 360 Derajat Vol 3 No 1 (2026): Pengabdian Masyarakat 360 Derajat
Publisher : Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35328/07css281

Abstract

Nyeri kepala menjadi salah satu keluhan yang paling sering dialami pasien hipertensi dan dapat mengganggu aktivitas serta kualitas hidup penderita. Upaya penatalaksanaan nonfarmakologis diperlukan untuk membantu mengurangi keluhan nyeri secara aman dan efektif, salah satunya melalui massage therapy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas teknik massage effleurage dan petrissage terhadap skala nyeri kepala pasien hipertensi di Puskesmas Sumaja Makmur Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan pendekatan pretest-posttest two group design. Sampel penelitian berjumlah 170 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 85 responden kelompok effleurage dan 85 responden kelompok petrissage menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran intensitas nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skala nyeri kepala setelah pemberian intervensi pada kedua kelompok. Teknik petrissage menunjukkan penurunan nyeri yang lebih besar dibandingkan teknik effleurage dengan nilai p-value <0,05. Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan efektivitas teknik massage effleurage dan petrissage terhadap penurunan skala nyeri kepala pasien hipertensi, dimana teknik petrissage lebih efektif dibandingkan effleurage.
Pengaruh Hidroterapi Sitz Bath terhadap Intensitas Nyeri Pascahemoroidektomi di Rumah Sakit Siloam Sriwijaya: Effect of Sitz Bath Hydrotherapy on Pain Intensity Following Hemorrhoidectomy at Siloam Sriwijaya Hospital Rezy Dwi Utari; Aris Citra Wisuda; Isrizal; Raden Surahmat; Citra Suraya; Risdayanti Raharjeng
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 8 (2026): EDISI AGUSTUS
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i8.520

Abstract

Pendahuluan: Nyeri pascahemoroidektomi merupakan salah satu komplikasi yang paling sering dialami pasien setelah tindakan pembedahan. Kondisi ini dapat membatasi mobilisasi, mengurangi kenyamanan, meningkatkan kebutuhan analgesik, serta memperlambat proses pemulihan. Terapi nonfarmakologis hidroterapi Sitz Bath merupakan salah satu intervensi yang berpotensi membantu mengurangi intensitas nyeri melalui efek relaksasi otot dan peningkatan sirkulasi darah pada area perianal. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas hidroterapi Sitz Bath sebagai intervensi nonfarmakologis dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien pascahemoroidektomi yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Siloam Sriwijaya. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one-group pretest–posttest. Sebanyak 68 responden dipilih menggunakan teknik total sampling. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah pemberian hidroterapi Sitz Bath. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test setelah hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal.          Hasil: Median intensitas nyeri sebelum intervensi adalah 2,50 (SD = 0,652) dan menurun menjadi 1,00 (SD = 0,654) setelah intervensi. Hasil uji Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan nilai Z = -7,345 dengan p-value = 0,001 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya penurunan intensitas nyeri yang signifikan setelah pemberian hidroterapi Sitz Bath. Kesimpulan: Hidroterapi Sitz Bath efektif dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien pascahemoroidektomi. Intervensi ini dapat dipertimbangkan sebagai terapi nonfarmakologis dalam praktik keperawatan untuk meningkatkan kenyamanan pasien, mengoptimalkan manajemen nyeri, dan mendukung proses pemulihan pascaoperasi.  
Semi-Fowler Versus Lateral Positioning for Pain Management in Patients with Cholelithiasis: A Quasi-Experimental Study Siti Nourma Wulandari; Dian Emiliasari; Aris Citra Wisuda; Citra Suraya; Risdayanti Raharjeng
Media Ilmiah Kesehatan Indonesia Vol. 4 No. 3 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Pakis Journal Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58184/miki.v4i3.1108

Abstract

Cholelithiasis may cause abdominal pain that affects patients’ comfort and daily activities. In addition to pharmacological therapy, positioning is a simple non-pharmacological nursing intervention that may help reduce pain intensity. The semi-Fowler and lateral positions are commonly used to improve patient comfort; however, their comparative effectiveness in patients with cholelithiasis remains unclear. This study aimed to compare the effectiveness of the semi-Fowler and lateral positions in reducing pain intensity among patients with cholelithiasis. A quasi-experimental study with a two-group pretest–posttest design was conducted in the inpatient ward of RSUD Siti Fatimah Az-Zahra, South Sumatra Province, in May 2026. A total of 34 patients with cholelithiasis were recruited using total sampling and allocated into the semi-Fowler group (n=17) and lateral group (n=17). The semi-Fowler group was positioned with the head of the bed elevated at 30–45°, while the lateral group was positioned in a side-lying posture supported with pillows for 15 minutes. Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test and Mann–Whitney U test. The mean pain score decreased from 6.59 ± 1.18 to 3.65 ± 0.93 in the semi-Fowler group and from 6.47 ± 1.01 to 3.53 ± 1.01 in the lateral group. Both groups demonstrated significant reductions in pain intensity (p < 0.001), with no significant difference between the two positions (p = 0.984). Both positions may be considered simple non-pharmacological nursing interventions for pain management in patients with cholelithiasis.
Water-Drinking Hydrotherapy for Blood Glucose and Anxiety Outcomes in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus: A Quasi-Experimental Study Dewi Aryani; Aris Citra Wisuda; Dian Emiliasari; Rinda Suciarti; Citra Suraya; Risdayanti Raharjeng
Media Ilmiah Kesehatan Indonesia Vol. 4 No. 3 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Pakis Journal Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58184/miki.v4i3.1110

Abstract

Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease characterized by hyperglycemia and may be accompanied by psychological problems, including anxiety. Oral water therapy is a simple complementary intervention that may support blood glucose control; however, its effects on blood glucose levels and anxiety require further investigation. This study aimed to determine the effectiveness of oral water therapy in reducing blood glucose levels and anxiety among patients with type 2 diabetes mellitus at Sriwijaya General Hospital, Palembang. This quantitative study employed a quasi-experimental pretest-posttest design. A total of 42 respondents were divided into a blood glucose group and an anxiety group, with 21 respondents in each group. The intervention consisted of consuming eight 200-mL glasses of water daily for seven days. Blood glucose levels were measured using a glucometer, while anxiety was assessed using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Data were analyzed using the paired-samples t-test and Cohen's d. Blood glucose levels decreased across all measurement days, from 232.7 to 218.2 mg/dL on day 1, from 218.9 to 204.8 mg/dL on day 3, from 203.5 to 191.5 mg/dL on day 5, and from 189.8 to 177.4 mg/dL on day 7. All changes were statistically significant (p < 0.001), with very large effect sizes (Cohen's d = 2.907–3.739). In contrast, anxiety scores did not show a statistically significant change (p > 0.05), with very small to small effect sizes. Oral water therapy may support blood glucose control as a complementary intervention but did not demonstrate a significant effect on anxiety.
EFEKTIVITAS ACTIVE CYCLE OF BREATHING TECHNIQUE TERHADAP PENURUNAN FREKUENSI PERNAPASAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU Yoan Tiara Rosa; Sutrisari Sabrina Nainggolan; Yofa Anggriani; Aris Citra Wisuda; Risdayanti Raharjeng
JURNAL KEPERAWATAN SISTHANA Vol. 11 No. 2 (2026): September : Jurnal Keperawatan Sisthana
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KESDAM IV DIPONEGORO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/sisthana.v11i2.2705

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang sering menyebabkan gangguan fungsi respirasi akibat akumulasi sekret pada saluran napas sehingga meningkatkan frekuensi pernapasan dan memperberat kerja pernapasan. Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) merupakan intervensi nonfarmakologis yang bertujuan meningkatkan ventilasi paru dan membantu mobilisasi sekret sehingga diharapkan dapat memperbaiki pola pernapasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Active Cycle of Breathing Technique terhadap frekuensi pernapasan pada pasien tuberkulosis paru di Rumah Sakit Empat Lawang. Penelitian menggunakan desain pre-experimental one-group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien tuberkulosis paru yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Intervensi ACBT diberikan selama tiga hari berturut-turut, satu sesi setiap hari dengan durasi 20–30 menit. Frekuensi pernapasan diukur sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik sesuai distribusi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden mengalami takipnea (90,0%), sedangkan setelah intervensi sebanyak 63,3% responden berada pada kategori frekuensi pernapasan normal. Rerata frekuensi pernapasan menurun dari 25,00 kali/menit menjadi 20,83 kali/menit setelah pemberian ACBT. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara sebelum dan sesudah intervensi (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa ACBT efektif memperbaiki frekuensi pernapasan pada pasien tuberkulosis paru. Active Cycle of Breathing Technique dapat dipertimbangkan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman, sederhana, dan mudah diterapkan untuk mendukung peningkatan fungsi respirasi pada pasien tuberkulosis paru.
Pengaruh Edukasi Keperawatan Berbasis Audio Visual terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis Paru: The Effect of Audiovisual-Based Nursing Education on Medication Adherence Among Patients with Pulmonary Tuberculosis Nia Janiati; Aris Citra Wisuda; Dian Emiliasari; Sutrisari Sabrina Nainggolan; Citra Suraya; Risdayanti Raharjeng
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 9 (2026): EDISI SEPTEMBER
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i9.550

Abstract

paru menjadi utama karena berhubungan dengan keberhasilan terapi atau terjadi resistensi obat. Edukasi keperawatan menggunakan media audio visual dapat membantu menyampaikan informasi kesehatan secara menarik, komunikatif, dan mudah dipahami, sehingga berpotensi meningkatkan motivasi pasien untuk mengikuti pengobatan secara konsisten. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas edukasi keperawatan berbasis media audio visual terhadap kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Tanjung Lubuk.Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest–posttest. Sebanyak 44 pasien tuberkulosis paru dipilih melalui teknik total sampling. Intervensi berupa edukasi keperawatan menggunakan video audio visual, sedangkan kepatuhan minum obat diukur menggunakan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Karena hasil uji normalitas Shapiro–Wilk menunjukkan data tidak berdistribusi normal, perubahan skor kepatuhan sebelum dan sesudah intervensi dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat kemaknaan α=0,05.Hasil: Sebelum intervensi, seluruh responden (100%) berada dalam kategori kepatuhan rendah dengan skor rata-rata 2,40±1,25. Setelah edukasi, sebanyak 72,7% responden mencapai kategori kepatuhan tinggi, dengan skor rata-rata meningkat menjadi 7,15±0,95. Uji Wilcoxon menghasilkan Z=-5,787 dan p=0,000 (p<0,05). Seluruh responden menunjukkan positive ranks yang menandakan peningkatan skor kepatuhan setelah intervensi. Kesimpulan: Edukasi keperawatan melalui media audio visual berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru. Media ini sudah digunakan sebagai strategi edukasi dan perlu peningkatan agar materi semakin mudah dipahami oleh pasien.