Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dari Dolanan Ke Panggung: Penguatan Karakter dan Keberlanjutan Musik Tradisi melalui Pelatihan Karawitan Anak di Sanggar Harmini Parni Ponorogo Anbie Haldini Muhammad; Senyum Sadhana; Tomy Agung Sugito; Bambang Sugito
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 4 No. 7 (2026): September
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v4i7.5189

Abstract

Sanggar Harmini Parni di Desa Serag, Ponorogo, menghadapi krisis regenerasi karawitan: dari 16 anak yang aktif berlatih rutin, hanya sebagian kecil mampu memainkan pola dasar balungan, sementara mayoritas lebih akrab dengan gawai daripada gamelan, dan modul pembelajaran berbasis lagu dolanan belum tersedia. Peserta seluruhnya perempuan berlatar Madrasah Ibtidaiyah yang kesehariannya lebih dekat dengan aktivitas mengaji dan belum memiliki pengalaman berkarawitan. Kegiatan pengabdian ini melatih keterampilan dasar karawitan anak, menumbuhkan nilai karakter, dan mengalihkan fokus anak dari gawai melalui pelatihan intensif berbasis lagu dolanan. Tim menerapkan cultural apprenticeship, memadukan fasilitator akademis dengan nayaga senior sanggar sebagai mentor budaya, bersama play-based learning, selama tiga hari (28-30 Agustus 2026) terhadap 18 anak: 14 dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah dan 4 dari Taman Kanak-kanak. Pada hari pertama, anak-anak masih kesulitan memainkan gamelan. Pada hari kedua, seluruh peserta sudah siap mementaskan gending Cublak-Cublak Suweng laras slendro, dan pada hari ketiga mereka memainkannya utuh dari buka kendang hingga suwuk. Nilai tata krama seperti menghargai gamelan dan menabuh dengan lembut tumbuh selama latihan, seiring teralihnya fokus anak dari gawai. Berdasarkan observasi kualitatif selama kegiatan, pelatihan intensif berbasis komunitas ini menunjukkan hasil yang menjanjikan sebagai model regenerasi budaya dalam waktu singkat, meski keberlanjutannya masih perlu diuji melalui pendampingan lanjutan.
The Threshold Symbol: How the Barong Kucingan Mask Binds Play, Ritual, and Spirit in Javanese Jaranan Performance Setyo Yanuartuti; Anbie Haldini Muhammad; Jajuk Dwi Sasanadjati; Bambang Sugito; Enie Wahyuning Handayani
International Journal of Law and Society Vol 5 No 2 (2026): International Journal of Law and Society (IJLS)
Publisher : NAJAHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59683/ijls.v5i2.307

Abstract

The symbolic and ritual dimensions of the Barong Kucingan mask within the Javanese Jaranan tradition remain critically underexplored, particularly from an integrated ethnographic-semiotic perspective a gap that limits the development of performance studies, cultural ethnography, and symbolic semiotics, which have tended to treat symbolic structure and social function as separate objects of analysis. This study analyses the symbolic structures embedded in the visual, kinetic, and performative dimensions of the Barong Kucingan mask, the cultural functions it serves, and the way these elements articulate to form a systemic meaning within the Jaranan performance of Blitar, East Java, Indonesia. Employing an interpretivist qualitative design combining cultural ethnography and performance ethnography, data were collected over six months across multiple Jaranan communities through participant observation, in-depth interviews with fifteen informants across four categories, and audio-visual documentation, then triangulated and interpreted through symbolic semiotics, ritual process theory, and performance studies. The findings are organised across three dimensions. First, at the level of symbolic structure, the mask, movement, music, and costume operate as an integrated presentative symbol encoding a dualistic cosmology of wild and tame. Second, at the level of cultural function, the performance simultaneously serves entertainment, liminal, social-critical, and spiritual functions that operate as a single continuous movement. Third, at the level of interpretive meaning, these structures and functions converge to produce cosmological dualism, ancestral mediation, and collective identity. The study’s principal contribution is the threshold symbol system a new conceptual model that integrates symbolic structure, cultural function, and interpretive meaning within a single analytical framework, thereby extending performance studies and symbolic anthropology beyond the functionalist–semiotic divide. A limitation is the study’s focus on a single regional tradition, which invites comparative testing elsewhere.