AbstrakEkowisata mangrove memadukan kegiatan wisata dengan konservasi pesisir, tetapi keberlanjutannya bergantung pada peran masyarakat lokal. Mangrove Tapak di Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, melindungi garis pantai Tirang Barat dari abrasi, tetapi menghadapi pencemaran limbah dan sampah yang berlangsung lama. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran masyarakat Desa Tapak dalam pemeliharaan ekosistem melalui pengembangan ekowisata mangrove serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara terhadap delapan informan yang dipilih secara purposif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat berperan melalui kelompok terorganisasi, yaitu Pokdarwis, organisasi pemuda Prenjak, dan Putri Tirang, yang melibatkan perwakilan setiap RW dalam penanaman mangrove, kerja bakti, pemasangan alat pemecah ombak, dan sosialisasi lingkungan. Upaya tersebut meningkatkan jenis mangrove dari dua menjadi lima jenis dan menjaga ekosistem dalam kondisi baik. Namun, limbah dan sampah dari wilayah hulu belum teratasi. Disimpulkan bahwa keterlibatan masyarakat yang terorganisasi menjadi penggerak utama pemeliharaan ekosistem di Tapak. Pemerintah kota disarankan mengoordinasikan pengelolaan limbah hulu–hilir serta menyediakan tempat sampah dan toilet umum.Kata Kunci: Ekowisata Mangrove; Pemeliharaan Ekosistem; Pengelolaan Sampah; Peran MasyarakatAbstractMangrove ecotourism combines tourism with coastal conservation, yet its sustainability depends on the role of local communities. The Tapak Mangrove in Tugurejo, Tugu District, Semarang City, protects the Tirang Barat coastline from abrasion but faces persistent waste and garbage pollution. This study aims to describe the role of the Tapak community in maintaining the ecosystem through mangrove ecotourism development and to identify the obstacles encountered. A descriptive qualitative method was used, with data collected through observation, interviews with eight purposively selected informants, and documentation, then analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that the community participates through organized groups, namely Pokdarwis, the Prenjak youth organization, and Putri Tirang, which involve representatives of every neighborhood unit in mangrove planting, communal work, wave breaker installation, and environmental outreach. These efforts have increased the number of mangrove species from two to five and kept the ecosystem in good condition. However, waste flowing from upstream areas remains unresolved. It is concluded that organized community involvement is the main driver of ecosystem maintenance in Tapak. The city government is advised to coordinate upstream–downstream waste management and to provide garbage bins and public toilets.Keywords: Community Role; Ecosystem Maintenance; Mangrove Ecotourism; Waste Management