Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMANFAATAN NILAI WILLINGNESS TO PAY UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN UMBUL DI KLATEN DAN PETA UTILITAS DENGAN METODE SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Umbul Ponggok dan Obyek Mata Air Cokro) MEIGA NUGRAHANI; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu A
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1391.454 KB)

Abstract

Kabupaten Klaten terkenal dengan obyek wisata mata air (umbul) seperti Umbul Ponggok dan Obyek Mata Air Cokro. Umbul Ponggok Kabupaten Klaten memiliki prestasi berupa tempat wisata dengan daya tarik wisata Jawa Tengah terpopuler tahun 2017 dan masuk nominasi obyek wisata baru terpopuler Anugerah Pesona Indonesia 2018. Tingginya daya tarik terhadap tempat wisata tersebut diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) untuk mengetahui nilai ekonomi dan manfaat berdasarkan keinginan untuk membayar (Willingness to pay) wisatawan dan masyarakat yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut. Penarikan sampel nilai ekonomi suatu kawasan dengan berdasakan Travel Cost Method (TCM) untuk memperoleh nilai kegunaan langsung dan metode Contingent Valuation Method  (CVM) digunakan untuk mendapatkan nilai bukan kegunaan. Non probability sampling dengan teknik accidential sampling merupakan metode penarikan responden yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini yaitu mengambil responden yang secara kebetulan ditemui dilokasi wawancara. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungannya menggunakan perangkat lunak Maple 17. Pada penelitian ini juga dilakukan uji statistik (uji validitas dan uji reliabilitas) dan uji asumsi klasik (uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinieritas dan uji heteroskesdastisitas). Perhitungan penelitian ini menghasilkan nilai total kegunaan dan nilai total bukan kgunaan. Kawasan Umbul Ponggok memiliki nilai kegunaan sebesar Rp 576.613.426.000,-, nilai bukan kegunaan sebesar Rp 486.094.982.700,- dan nilai total ekonomi kawasan sebesar Rp 1.062.708.408.700,-. Sedangkan kawasan Obyek Mata Air Cokro memiliki nilai kegunaan sebesar Rp 70.106.421.350,-, nilai bukan kegunaan sebesar Rp 50.456.381.090,- dan nilai total ekonomi kawasan sebesar Rp 120.562.802.400,-.
PEMANFAATAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM ANALISIS KERAWANAN BANJIR DI KECAMATAN CAWAS Nugrahani, Meiga
INTEKNA Jurnal Informasi Teknik dan Niaga Vol 25 No 1 (2025): Jurnal INTEKNA, Volume 25, No. 1, Mei 2025
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi bahaya bencana banjir di Kabupaten Klaten termasuk dalam kelas tinggi berdasarkan kajian resiko bencana nasional Provinsi Jawa Tengah untuk tahun 2022 sampai dengan 2026. Empat kecamatan di Kabupaten Klaten yang mengalami kejadian banjir lebih dari tiga kali selama tahun 2023 yaitu, Kecamatan Bayat, Cawas, Karangdowo, dan Juwiring, dimana kecamatan tersebut dilewati oleh sungai dengkeng yang merupakan anak sungai dari sungai bengawan solo. Upaya untuk melakukan mitigasi atas bahaya tersebut tidak dapat dilakukan tanpa memiliki peta kerawanan banjir. Selain itu, faktor atau kriteria penyebab banjir perlu diketahui agar mitigasi berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran wilayah yang mengalami kerawanan banjir dengan menggunakan metode AHP serta analisis spasial dengan SIG dalam penyajian peta. Hasil analisis menggunakan AHP memberikan urutan faktor atau kriteria yang berpengaruh atas bahaya banjir. Secara berurutan, kriteria yang berpengaruh atas kerawanan banjir di Kecamatan Cawas yaitu curah hujan, jarak terhadap sungai, tata guna laha, kemiringan lereng dan jenis tanah. Selain itu, hasil prediksi wilayah yang mengalami kerawanan banjir dengan metode AHP dilakukan perbandingan dengan data kejadian yang dihimpun dari website BPBD. Hasilnya terdapat kesamaan atas analisis metode AHP terkait wilayah yang mengalami kerawanan tinggi. Selain itu, terdapat perbedaan pada Desa Karangasem, dimana menurut data kejadian dari website BPBD pernah mengalami banjir atau luapan sungai sedangkan analisis AHP desa tersebut memiliki kelas rendah. Kata Kunci: Kerawanan banjir, AHP, SIG dan Pemetaan.
Pemanfaatan Limbah Aspal untuk Repair Jalan Berlubang di Jalan Irigasi Lingkungan V Kota Medan Amrizal, Amrizal; Bakara, Ricky; Rizky, Dinnie Ananda; Butarbutar, Frans Tomy; Nugrahani, Meiga
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 4 (2025): Juli 2025 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/t9ewn698

Abstract

Permasalahan kerusakan jalan lingkungan kerap terjadi akibat beban kendaraan berlebih, kondisi iklim tropis, serta keterbatasan perawatan berkala oleh masyarakat. Di sisi lain, limbah aspal dari sisa proyek konstruksi berpotensi menjadi bahan baku alternatif yang belum dimanfaatkan secara optimal. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengedukasi dan memberdayakan masyarakat dalam memanfaatkan limbah aspal sebagai bahan perbaikan jalan melalui penerapan teknologi Cold Mix Asphalt (CMA). Kegiatan diawali dengan survei kondisi lapangan, pengumpulan limbah aspal, proses pengolahan dan formulasi campuran, hingga tahap aplikasi di lokasi percontohan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa campuran 60% limbah aspal dan 40% aspal baru mampu menghasilkan stabilitas Marshall sebesar 8,5 kN, memenuhi standar kelayakan untuk jalan lingkungan. Selain menurunkan biaya pengadaan material hingga 30%, kegiatan ini juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan limbah konstruksi secara produktif. Program ini mendemonstrasikan penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam pengabdian masyarakat, sekaligus mendorong partisipasi aktif warga dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur lingkungan.