Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Akomodasi Dialek Kebahasaan Nabi Muhammad Saw. dalam Interaksi dengan Berbagai Kabilah Arab: Analisis Historis dan Sosiolinguistik Berdasarkan Riwayat Hadis Bustanul Ulum; Aang Saeful Milah
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3398

Abstract

Artikel ini menganalisis akomodasi dialek kebahasaan Nabi Muhammad saw. ketika berinteraksi dengan berbagai kabilah Arab melalui pendekatan historis dan sosiolinguistik berbasis riwayat hadis. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa masyarakat Arab awal bukan komunitas linguistik yang homogen, melainkan terdiri atas beragam lahjah yang terkait dengan identitas kabilah, wilayah, dan prestise sosial. Dalam situasi tersebut, komunikasi profetik tidak dapat dipahami semata sebagai penyampaian ajaran normatif, tetapi juga sebagai praktik kebahasaan yang mempertimbangkan latar tutur para penerima pesan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi pustaka. Data primer berupa hadis-hadis yang berkaitan dengan pluralitas bahasa Arab, variasi ahruf, bentuk-bentuk dialektal dalam matan, dan riwayat interaksi Nabi dengan kelompok sosial yang berbeda. Data sekunder meliputi kitab-kitab syarah, literatur lughat al-qaba’il, serta jurnal mutakhir tentang sosiolinguistik Arab dan studi hadis kontekstual. Analisis dilakukan dengan memadukan pembacaan historis terhadap konteks periwayatan dan Communication Accommodation Theory untuk menilai fungsi sosial penyesuaian bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akomodasi kebahasaan Nabi bekerja pada tiga level: pengakuan terhadap pluralitas bahasa Arab dalam bingkai makna yang sama, keluwesan pada level bentuk dan register, serta sensitivitas terhadap jarak sosial antara penutur dan lawan tutur. Temuan ini menegaskan bahwa kefasihan Nabi tidak bersifat kaku, tetapi adaptif dan berorientasi pada keterpahaman, efektivitas dakwah, serta integrasi sosial. Dengan demikian, studi hadis perlu lebih serius memasukkan dimensi dialek dan sosiolinguistik sebagai bagian penting dalam pembacaan matan.
Diferensiasi Halusinasi Klinis dan Pengalaman Spiritual dalam Hadis Nabi saw.: Analisis Tematik Pengalaman Sensorik Non-Ordiner dengan Pendekatan Psikopatologi Modern Bustanul Ulum; Nagib Romadhony
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3399

Abstract

Penelitian mengenai pengalaman sensorik non-ordiner dalam agama sering bergerak di antara dua kutub yang sama-sama problematik, yaitu reduksionisme psikiatris yang cenderung menyamakan seluruh pengalaman religius dengan gejala patologis, dan pendekatan normatif yang menolak perangkat analisis klinis secara menyeluruh. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana hadis-hadis tentang pengalaman sensorik non-ordiner Nabi Muhammad saw. dapat dibaca melalui pendekatan psikopatologi modern untuk membedakan pengalaman spiritual dari halusinasi klinis. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis tematik terhadap hadis-hadis sahih yang memuat mimpi benar, pendengaran wahyu seperti bunyi lonceng, perjumpaan dengan Jibril dalam bentuk manusia maupun bentuk asal, dan pengalaman Isrā’ Mi‘rāj. Data primer diambil dari kumpulan hadis kanonik, sedangkan data sekunder berasal dari literatur mutakhir tentang psikopatologi, cultural psychiatry, dan spiritualitas-kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi hadis menampilkan sejumlah indikator yang secara fenomenologis membedakannya dari halusinasi klinis, yaitu konteks pengalaman yang terstruktur, keterjagaan fungsi sosial-kognitif, konsistensi isi, adanya validasi intersubjektif, tidak ditemukannya disorganisasi pikir, serta keluaran etis-transformatif yang stabil. Sebaliknya, halusinasi klinis dalam literatur psikiatri lebih sering muncul bersama distress, penurunan fungsi, kehilangan kontrol, dan gangguan organisasi realitas. Dengan demikian, representasi hadis tentang pengalaman sensorik Nabi lebih tepat dipahami, dalam batas analisis fenomenologis, sebagai pengalaman spiritual yang terlegitimasi secara kultural-religius daripada sebagai halusinasi patologis. Studi ini berkontribusi pada penguatan dialog antara Ilmu Hadis dan psikopatologi kontemporer melalui model pembacaan non-reduksionis, kritis, dan metodologis.