Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Pengendalian Kualitas Bumbu Kacang dengan Pendekatan Metode Statistical Process Control : (Studi Kasus: UMKM Ketoprak dan Kupat Tahu Singajaya) Rifki Aditya Cahyana; Arief Rahmana
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2117

Abstract

UMKM Ketoprak dan Kupat Tahu Singajaya menghadapi permasalahan berupa ketidakkonsistenan kualitas bumbu kacang, terutama pada aspek kekentalan, rasa, dan takaran bahan. Variasi tersebut berpotensi menurunkan kepuasan pelanggan serta mengurangi daya saing usaha. Kondisi ini disebabkan oleh proses produksi yang masih dilakukan secara manual, belum adanya standar operasional yang baku, serta pengukuran bahan baku yang belum konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi pengendalian kualitas bumbu kacang, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab variasi kualitas, serta memberikan rekomendasi perbaikan menggunakan metode Statistical Process Control (SPC). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan check sheet selama 31 hari produksi. Data dianalisis menggunakan peta kendali X̄-R, peta kendali C, diagram Pareto, diagram sebab akibat (fishbone diagram), serta analisis kapabilitas proses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses produksi masih berada dalam batas kendali statistik pada peta kendali X̄-R dan peta kendali C, dengan nilai CL X̄ sebesar 82,123, UCL 90,536, LCL 73,709, CL R sebesar 15, UCL 30,823, LCL 0, CL C sebesar 11,806, UCL 22,115, dan LCL 1,498. Namun, analisis kapabilitas proses menghasilkan nilai Cp sebesar 0,11 dan Cpk sebesar -0,01 yang menunjukkan bahwa proses belum mampu memenuhi spesifikasi kualitas yang diharapkan. Diagram Pareto menunjukkan cacat dominan berupa bumbu terlalu encer (30%), kurang gurih (26%), dan terlalu kental (25%). Faktor penyebab utama berasal dari aspek manusia, metode, material, peralatan, dan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan standarisasi resep, penyusunan SOP, penggunaan alat ukur yang lebih akurat, serta pelatihan operator guna meningkatkan konsistensi kualitas bumbu kacang secara berkelanjutan.