Permasalahan akumulasi sampah organik rumah tangga merupakan salah satu tantangan dalam pengelolaan lingkungan yang membutuhkan pendekatan berkelanjutan. Salah satu alternatif yang dikembangkan adalah biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF), yang tidak hanya berpotensi mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi melalui pemanfaatan larva sebagai pakan ternak. Namun, keberhasilan penerapan teknologi tersebut tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh tingkat persepsi, penerimaan, dan partisipasi masyarakat. Penelitian ini mengidentifikasi permasalahan terkait tingkat penerimaan masyarakat, persepsi terhadap manfaat dan dampak lingkungan, efektivitas pengurangan sampah, serta keberlanjutan pengelolaan program berbasis komunitas di Padukuhan Sorogenen, Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif yang dilaksanakan pada April 2026 dengan melibatkan 22 responden yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara dengan masyarakat serta pengelola TPS3R. Persepsi masyarakat dianalisis menggunakan skala Likert melalui lima indikator, yaitu manfaat budidaya maggot, tingkat persetujuan, gangguan lingkungan, pengurangan sampah organik, dan pengelolaan program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata indeks persepsi masyarakat mencapai 94,73% (mean 4,74) dan termasuk kategori sangat baik. Indikator pengurangan sampah organik memperoleh nilai tertinggi sebesar 97,27%, sedangkan tingkat persetujuan terhadap budidaya maggot menjadi indikator terendah sebesar 92,73%. Hasil tersebut menunjukkan adanya penerimaan masyarakat yang sangat baik terhadap pengelolaan sampah organik berbasis BSF serta adanya manfaat ekologis dan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Namun, keberlanjutan program masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan informasi dan sosialisasi berkala yang dapat memengaruhi konsistensi partisipasi masyarakat. Penelitian merekomendasikan penguatan edukasi dan sosialisasi teknis secara berkala, pemerataan distribusi bibit BSF, serta peningkatan koordinasi antar-pihak untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan sampah berbasis komunitas.