Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Leta Kepasa dalam Upacara Membuka Kebun Baru Masyarakat Kampung Lewoawang: Kajian Ekolinguistik Leba, Bartoldus Sora; Mare, Fransiska Jone
Journal of Education Research Vol. 5 No. 4 (2024)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/jer.v5i4.1914

Abstract

Tujuan penelitian adalah menemukan pola sintaksis, makna semantis, serta bentuk dan makna dialog ungkapan leta kepasa. Hal ini didasarkan pada dua konsep kajian Ekolinguistik, yakni lingkungan bahasa dan bahasa lingkungan. Data penelitian deskriptif kualitatif ini bersumber dari masyarakat Desa Lewoawang, Kabupaten Flores Timur. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara dengan teknik rekam catat dan dianalisis dalam tiga tahap, yakni reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian adalah (1) penggunaan kalimat deklaratif dan imperatif, (2) terkandung makna semantis konotatif, (3) model dialog lingkungan TOPOS (ruang, waktu, tempat) melibatkan empat konstituen, yakni (S1) ketua adat (penutur); (s2) pemilik ladang (mitra tutur); (S3) pihak yang terlibat (konsumen); (O) ladang (objek), dan (4) dimensi praksis sosial yang melatarbelakangi lingkungan TOPOS, yakni dimensi ideologis (keyakinan total kepada Lera Wulan Tana Ekan dan kemampuan mempelajari iklim dan musim), sosiologis (keharmonisan hidup manusia, sesama dan ciptaan lainnya), dan biologis (tanah, air, udara yang memberikan kehidupan).
IMPLEMENTASI PROGRAM KAMPUS MENGAJAR DALAM MENUMBUHKAN MINAT BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SMPK SWADAYA TUAKEPA Mare, Fransiska Jone; Leba, Bartoldus Sora
Devote: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global Vol. 4 No. 1 (2025): Devote : Jurnal Pengabdian Masyarakat Global, Maret 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/devote.v4i1.3665

Abstract

Schools in remote areas still face various challenges in meeting students' learning needs, particularly regarding literacy, numeracy, and technological adaptation. This community service activity aims to observe real conditions in the field and to formulate program concepts that address the identified issues based on the needs of students at the target schools. The method employed is qualitative with a descriptive approach. Data collection techniques include observation and interviews. The results of this activity include the development and implementation of work programs designed to address the literacy, numeracy, and technological skills needs of students and schools. The programs implemented have shown positive impacts, such as increasing students' learning motivation and abilities and creating a more conducive and inspiring learning atmosphere within the school environment.
Representasi Makna Kehidupan dalam Puisi di Selat Suba Karya Bara Pattyradja: Kajian Semiotik: Representation of the Meaning of Life in the Poem in the Suba Strait by Bara Pattyradja: A Semiotic Study Mare, Fransiska Jone; Abel, Christiyanti; Maran, Alfonsus Duru
JBSI: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 5 No. 01 (2025): Artikel Riset Periode Mei 2025
Publisher : Information Technology and Science(ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jbsi.v5i01.5896

Abstract

This research is entitled Representation of the Meaning of Life in the Poem Di Selat Suba. The meaning of life, in this case, is in the form of character education that can be applied to everyday life, such as believing in God Almighty, tolerance, and love for the environment. The theory used in studying the poem by Bara Pattyradja is Roland Barthes's semantic theory. This theory emphasises the analysis of the meaning of signs that refer to the signifier and the signified. This study aims to find the meaning of denotation, connotation and myth. The qualitative descriptive method was used in this study to find the research objectives in a structured manner. After all the data was collected, the data began to be analysed using data triangulation techniques, namely data reduction, data presentation and conclusion. Based on the results of the data analysis, it was found that (1) the denotative meaning in this poem refers to life choices, awareness and certainty of death. The denotative meaning in this poem is very minimal. (2) This poem's connotative or figurative meaning refers to this life like a ship, flanked by choices, humans like fish, pleasure, emptiness, futility, prayer, and hope. Conscience and reason are guides in life. This poem generally uses connotative meaning, so it needs to be read repeatedly to understand the intended meaning. (3). The regional or mythical meaning refers to the name of the strait on Adonara Island, Selat Suba, and the complainer or Guangxi.
MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR BAHASA INGGRIS MELALUI SENI DAN EDUKASI KEPADA MASYARAKAT LOKAL DI DESA WAILEBE Mare, Fransiska Jone; Leba, Bartoldus Sora
Devote: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global Vol. 4 No. 3 (2025): Devote : Jurnal Pengabdian Masyarakat Global, 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/devote.v4i3.4593

Abstract

Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa internasional yang sangat penting dikuasai di era globalisasi, terutama seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi. Namun, motivasi belajar Bahasa Inggris di kalangan anak-anak dan remaja Desa Wailebe masih tergolong rendah, yang dipengaruhi oleh metode pembelajaran konvensional, kesulitan dalam penulisan dan pengucapan, serta keterbatasan dukungan dari lingkungan sekitar. Menyikapi hal tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tujuan menumbuhkan motivasi belajar Bahasa Inggris melalui pendekatan seni dan edukasi. Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari dengan melibatkan peserta didik pada jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama. Program edukasi terdiri atas Fun English dan English Goes to School, sedangkan program seni berupa pementasan puisi, storytelling, modern dance, serta teater bertema climate change. Selain itu, dilaksanakan pula kegiatan bakti sosial berupa pembersihan lingkungan dan doa bersama masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya antusiasme dan partisipasi aktif peserta didik, baik dalam pembelajaran interaktif maupun dalam pementasan seni. Masyarakat juga memberikan apresiasi positif terhadap kegiatan ini karena dinilai mampu menumbuhkan semangat belajar generasi muda sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan.
Peningkatan Kemampuan Membaca Teks Bahasa Inggris Melalui Pembelajaran Phonemic Awarennes Mare, Fransiska Jone; Arif, Ummi Qalsum
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 2 (2024): Journal Of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i2.740

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca teks bahasa inggris peserta didik kelas VII SMPN Satap Riangpuho. Peningkatan kemampuan membaca ini dilakukan dengan pengenalan bunyi fonem Phonemic Awareness masing-masing huruf sehingga siswa dapat membaca banyak kata dalam bahasa inggris. Kegiatan ini dilakukan dengan menerapkan metode ceramah, lagu dan demonstrasi. Luaran dari kegiatan ini adalah adanya sebuah lagu yang berkaitan dengan bunyi fonem masing-masing huruf dalam bahasa inggris. Hasil kegiatan pengabdian ini menunjukan bahwa ada beberapa siswa masih lamban membaca sehingga dibutuhkan perhatian khusus oleh tim pengabdian.
Analisis Etnosemantik Tuturan Verbal dan Tindakan Nonverbal Tradisi Gehan Tena pada Masyarakat Lewoawang Leba, Bartoldus Sora; Mare, Fransiska Jone; Lein, Natalia Onie
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 4 No. 10 (2025): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Oktober 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v4i10.4730

Abstract

This study aims to analyze the lexical and grammatical meanings of verbal speech and nonverbal actions in the Gehan Tena tradition and find the local cultural values reflected in these speech and actions. This research uses an ethnosemantic approach, which combines the analysis of the meaning of language (semantics) with the cultural context of the speakers (ethnolinguistic). The method used is qualitative descriptive with data collection techniques in the form of participatory observation, interviews, and documentation. The data is analyzed in three stages, namely data reduction, data display, and conclusion-making. The results of the study showed that (1) verbal speech and nonverbal actions are closely related to each other. Speech is followed by action or vice versa; (2) The lexical meaning of speech and action is obtained from the analysis of each speech word and action. Not all words have a lexical meaning in the form of words, but they are also in the form of phrases; (3) grammatical meaning is obtained from the analysis of spoken language units and actions in the form of phrases and sentences; (4) the lexical and grammatical meaning of speech and actions becomes the basis for the interpretation of local cultural values; (5) local cultural values of every speech and action related to the relationship between humans and God, others and the created nature.
Analisis Makna Leksikal dan Kultural Dalam Upacara Adat Hue Nuhe Pada Masyarakat Kampung Lewoawang Leba, Bartoldus Sora; Mare, Fransiska Jone
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.11098

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna leksikal dan kultural yang terdapat pada upacara adat Hue Nuhe pada masyarakat kampung Lewowang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini bersumber dari masyarakat kampung Lewoawang, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. Motode yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu observasi dan wawancara dengan teknik rekam dan catat. Data yang terkumpul berupa data verbal, nonverbal, dan sarana yang digunakan dalam upacara adat tersebut. Data tersebut dianalisis dalam tiga tahap yakni, reduksi data, display data dan pengambilan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa terdapat tiga aspek yang saling berkaitan erat satu sama lain dalam upacara adat tersebut, yakni aspek verbal berupa tuturan adat, aspek nonverbal berupa tindakan, serta aspek sarana berupa alat dan bahan yang digunakan. Pada aspek verbal makna leksikal ditemukan dalam setiap kata pada tuturan adat sebagai dasar dalam menerjemahkan tuturan tersebut ke dalam bahasa Indonesia secara baik dan benar, sedangkan makna kulturalnya hanya difokuskan pada beberapa kata dan frasa yang merupakan inti dari tuturan tersebut, yakni mio, loke pada, koda daten, epu onek to’u, dan hue nuhe gi’e wewe. Aspek nonverbal berupa tindakan terdiri atas dua tindakan, yakni tedu nea dan gelu nea, sedangkan aspek sarana terdiri atas empat alat, yakni nea, kela, nuro, dan gebia waja serta tiga bahan, yakni tua, wua, dan malu. Baik aspek nonverbal maupun aspek sarana memiliki makna leksikal dan kultural.
Analisis Wacana Kritis Tentang Perempuan Dalam Stiker Angkutan Kota di Kota Larantuka Mare, Fransiska Jone; Arif, Ummi Qalsum
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.11120

Abstract

Bahasa stiker akan menjadi sebuah wacana apa bila adanya konteks yang menyertainya. Wacana dalam stiker pada penelitian ini dikhususkan pada perempuan. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena gejala sosial yang terjadi pada perempuan dalam kehidupan di masa dulu hingga masa sekarang. Analisis wacana kritis yang dipakai dalam artikel ini menggunakan model Norman Fairchlough. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stiker pada angkutan kota Larantuka menunjukkan adanya perubahan cara memperlakukan perempuan sebagai bentuk kekuasaan laki-laki atas perempuan. Pada praktek sosiokultural terdapat tiga tingkatan yakni, Pertama, Tingkat situasional menekankan pada gaya hidup, tuntutan ekonomi, seksualitas dan pola pikir. Kedua Tingkat Institusional, pada tingkat ini subjek-subjek yang terlibat menunjukkan kekuasaannya atas perempuan melalui bahasa kritik yang vulgar dan terbuka. Ketiga, Tingkat sosial, pada Tingkat ini melihat pada situasi-situasi makro dalam masyarakat dimana pada bidang budaya terlah mengalami pergeseran cara memperlakukan perempuan, serta dari bidang ekonomi, tuntutan hidup yang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku.
Leta Kepasa dalam Upacara Membuka Kebun Baru Masyarakat Kampung Lewoawang: Kajian Ekolinguistik Leba, Bartoldus Sora; Mare, Fransiska Jone
Journal of Education Research Vol. 5 No. 4 (2024)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/jer.v5i4.1914

Abstract

Tujuan penelitian adalah menemukan pola sintaksis, makna semantis, serta bentuk dan makna dialog ungkapan leta kepasa. Hal ini didasarkan pada dua konsep kajian Ekolinguistik, yakni lingkungan bahasa dan bahasa lingkungan. Data penelitian deskriptif kualitatif ini bersumber dari masyarakat Desa Lewoawang, Kabupaten Flores Timur. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara dengan teknik rekam catat dan dianalisis dalam tiga tahap, yakni reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian adalah (1) penggunaan kalimat deklaratif dan imperatif, (2) terkandung makna semantis konotatif, (3) model dialog lingkungan TOPOS (ruang, waktu, tempat) melibatkan empat konstituen, yakni (S1) ketua adat (penutur); (s2) pemilik ladang (mitra tutur); (S3) pihak yang terlibat (konsumen); (O) ladang (objek), dan (4) dimensi praksis sosial yang melatarbelakangi lingkungan TOPOS, yakni dimensi ideologis (keyakinan total kepada Lera Wulan Tana Ekan dan kemampuan mempelajari iklim dan musim), sosiologis (keharmonisan hidup manusia, sesama dan ciptaan lainnya), dan biologis (tanah, air, udara yang memberikan kehidupan).
Khazanah Semantik Leksikal Bahasa Ibu Dalam Sastra Lisan Syair Rae Raja Lima Mare, Fransiska Jone; Leba, Bartoldus Sora
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 4 No. 11 (2025): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, November 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v4i11.4985

Abstract

Mother tongue stands as a crucial identity marker for cultural continuity within a community. However, the accelerating force of globalization has intensified language shift, placing many regional languages at risk of extinction as younger generations increasingly adopt dominant national and global languages. In response to this linguistic vulnerability, traditional oral literature plays an important role as a medium for preserving and transmitting local linguistic knowledge. This study aims to describe the lexicon contained in Sayir Rae Raja Lima and to explicate its contribution to the preservation of the mother tongue. The research employed a descriptive qualitative approach through text documentation, direct observation, and interviews with native speakers. The findings reveal that Sayir Rae Raja Lima contains a rich lexicon related to natural environments, social systems, traditional practices, kinship relations, and moral values that reflect the worldview and cultural identity of the local community. These lexical items function not only as linguistic units but also as cultural symbols that maintain collective memory and intergenerational transmission of knowledge. The analysis demonstrates that oral literature can serve as an effective strategy for conserving endangered languages by revitalizing vocabulary usage, strengthening cultural pride, and encouraging community participation in language maintenance. Thus, the documentation and analysis of traditional oral texts such as Sayir Rae Raja Lima provide significant contributions to sustaining the vitality of the mother tongue and reinforcing cultural identity in the era of globalization.