This study aims to describe the linguistic forms of code-mixing and identify the causal factors underlying its occurrence in student conversations at SMA Negeri 1 Larantuka, East Flores Regency. A qualitative approach utilizing a descriptive method grounded in sociolinguistic theory was employed. The data sources were obtained from the spoken interactions of 24 eleventh-grade students gathered through non-participant observation, audio recording, field note-taking, and semi-structured interviews conducted between January and March 2026. Data analysis followed the stages of data condensation, syntactic categorization, data display, and conclusion drawing. The findings from 36 identified speech corpora reveal that code-mixing manifests at three linguistic levels: the word level with 23 data (63.89%), the phrase level with 9 data (25.00%), and the clause level with 4 data (11.11%). Inner code-mixing was dominated by Larantuka Malay dialect and Lamaholot elements, whereas outer code-mixing appeared through English lexical items. The underlying causal factors include the role factor of equality among peers to foster intimacy, the informal situational register outside classroom hours, and the speakers' desire to emphasize communicative intentions and express spontaneous emotional nuances. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk campur kode pada tataran kebahasaan serta mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya peristiwa campur kode dalam percakapan siswa di SMA Negeri 1 Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang berlandaskan pada teori sosiolinguistik. Sumber data diperoleh dari interaksi lisan 24 siswa kelas XI yang dihimpun melalui teknik simak bebas libat cakap, perekaman audio, pencatatan lapangan, dan wawancara semi-terstruktur pada periode Januari hingga Maret 2026. Analisis data dilakukan melalui tahap kondensasi data, klasifikasi satuan sintaksis, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian terhadap 36 korpus tuturan menunjukkan bahwa campur kode terwujud ke dalam tiga tataran kebahasaan, yakni tataran kata sebanyak 23 data (63,89%), tataran frasa sebanyak 9 data (25,00%), dan tataran klausa sebanyak 4 data (11,11%). Campur kode ke dalam (inner code-mixing) didominasi oleh unsur bahasa Melayu Larantuka dan bahasa Lamaholot, sedangkan campur kode ke luar (outer code-mixing) berwujud leksikon bahasa Inggris. Faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode meliputi faktor peran kesetaraan antarsiswa untuk membangun keakraban, faktor ragam santai dalam situasi pergaulan informal di luar jam pelajaran, serta keinginan penutur untuk menegaskan maksud dan mengekspresikan emosi secara lebih spontan.