ABSTRACT Life satisfaction is an important aspect of adolescent development, including among adolescents living in social welfare institutions who experience separation from their families or come from broken-home families. Religiosity and emotional intelligence are considered factors that may be associated with adolescents’ ability to cope with life and achieve life satisfaction. This study aimed to examine the relationship between religiosity and emotional intelligence and life satisfaction, as well as differences in these variables based on gender among adolescents at the Riang Naibonat Child Social Welfare Technical Implementation Unit (UPTD), Kupang Regency, East Nusa Tenggara. This study employed a quantitative approach. Data were collected through questionnaires measuring religiosity, emotional intelligence, and life satisfaction. The sample consisted of 60 adolescents, comprising 35 male and 25 female adolescents. The sampling technique used was saturated sampling, in which all members of the population were included as research participants. The data were analyzed using multiple linear correlation to examine the relationship between religiosity and emotional intelligence and life satisfaction, as well as difference tests to examine differences in the research variables based on gender. The results showed that there was no significant relationship between religiosity and emotional intelligence and life satisfaction. However, further analysis showed that religiosity and emotional intelligence had an effect on life satisfaction, whereas the interaction between religiosity and emotional intelligence did not have an effect on life satisfaction. In terms of gender, there were no differences in religiosity or emotional intelligence between male and female adolescents; however, there was a difference in life satisfaction between the two groups. ABSTRAK Kepuasan hidup merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan remaja, termasuk remaja yang tinggal di lembaga kesejahteraan sosial dan menghadapi kondisi jauh dari keluarga atau berasal dari keluarga broken home. Religiusitas dan kecerdasan emosi dipandang sebagai faktor yang berkaitan dengan kemampuan remaja dalam menjalani kehidupan dan mencapai kepuasan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan religiusitas dan kecerdasan emosi dengan kepuasan hidup serta mengetahui perbedaannya berdasarkan jenis kelamin pada remaja di UPTD Kesejahteraan Sosial Anak Riang Naibonat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur religiusitas, kecerdasan emosi, dan kepuasan hidup Sampel penelitian berjumlah 60 remaja yang terdiri atas 35 remaja laki-laki dan 25 remaja perempuan. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik sampling jenuh, yaitu seluruh anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Data penelitian dianalisis menggunakan korelasi linear berganda untuk menguji hubungan religiusitas dan kecerdasan emosi dengan kepuasan hidup serta uji beda untuk mengetahui perbedaan variabel penelitian berdasarkan jenis kelamin. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan religiusitas dan kecerdasan emosi dengan kepuasan hidup. Namun, hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa religiusitas dan kecerdasan emosi berpengaruh terhadap kepuasan hidup, sedangkan interaksi antara religiusitas dan kecerdasan emosi tidak berpengaruh terhadap kepuasan hidup. Ditinjau dari jenis kelamin, tidak terdapat perbedaan religiusitas dan kecerdasan emosi antara remaja laki-laki dan perempuan, tetapi terdapat perbedaan kepuasan hidup antara remaja laki-laki dan perempuan. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan religiusitas dan kecerdasan emosi dengan kepuasan hidup. Namun, religiusitas dan kecerdasan emosi berpengaruh terhadap kepuasan hidup, sedangkan interaksi antara religiusitas dan kecerdasan emosi tidak berpengaruh terhadap kepuasan hidup.