Menghafal Al-Qur'an merupakan proses yang sarat tantangan psikologis, namun dalam budaya pesantren, kecemasan yang muncul sering kali tidak diungkapkan secara terbuka, melainkan dibungkus dalam narasi religius seperti kepasrahan pada takdir atau keyakinan bahwa Allah akan memberi jalan. Fenomena ini disebut spiritual bypassing, yaitu kecenderungan menggunakan gagasan dan praktik spiritual untuk menghindari penyelesaian persoalan emosional yang belum tuntas. Kecenderungan tersebut diduga tidak seragam pada seluruh mahasantri. Melihat mereka yang berlatar belakang pendidikan umum (SMA/SMK) sebelum menjalani program tahfidz, kemungkinan mengalami proses adaptasi religius-emosional yang berbeda dibandingkan dengan mereka yang sebelumnya telah menempuh pendidikan Islam (MA/pesantren). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pola silent anxiety, yaitu kecemasan yang dipendam dan tidak diverbalisasi secara eksplisit pada mahasantri penghafal Al-Qur'an dari kedua latar belakang pendidikan tersebut, serta bagaimana narasi religius berfungsi sebagai mekanisme spiritual bypassing yang mengalihkan perhatian dari kecemasan, bukan menyelesaikannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis naratif terhadap sepuluh transkrip wawancara mendalam bersama mahasantri tahfidz dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan empat pola utama: (1) pengalihan cepat dari pertanyaan yang menyentuh emosi ke jawaban bernuansa takdir atau kepasrahan; (2) minimalisasi pengakuan atas kecemasan yang dialami; (3) jawaban singkat yang berulang kali digali ulang oleh pewawancara sebagai penanda keengganan bercerita; serta (4) pembingkaian kecemasan sebagai ujian yang harus diterima, bukan persoalan yang perlu dikelola secara emosional. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang dinamika psikologis tersembunyi di lingkungan pendidikan berbasis agama dan menegaskan perlunya ruang dialog emosional yang tidak semata-mata berorientasi pada penguatan spiritual normatif.