Dewi Puspitasari
Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Semarang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Parental Phubbing dan Distres Psikologis pada Remaja: Literature Review Antika Widia Lestari; Rafa Maia Elfanti; Erika Dyah Novitasari; Ludhia Hasna Hafizhah; Melkha Ayu Pramudhia; Fionna Ayu Nailasanti; Ghina Dhinara Ayu Adzraa; Gendis Iva Indri Wibowo; Dewi Puspitasari; Satriya Pranata
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 3 (2026): Oktober - Desember
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i3.2437

Abstract

Ketika orang tua tetap sibuk dengan perangkat digital saat sedang bersama anak, perhatian selama berinteraksi dapat terbagi. Situasi ini dikenal sebagai parental phubbing dan dalam beberapa tahun terakhir semakin sering dikaji karena berkaitan dengan pengalaman psikologis remaja. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk merangkum hubungan parental phubbing dengan distres psikologis pada remaja sekaligus menelaah faktor yang dapat menjelaskan hubungan tersebut. Artikel ditelusuri melalui PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan Dimensions AI. Dari 479 catatan awal, sebanyak 14 artikel akhirnya memenuhi tahap seleksi. Secara umum, studi-studi tersebut mengaitkan parental phubbing dengan depresi, kecemasan, emosi negatif, dan penyesuaian psikologis yang lebih rendah. Sejumlah outcome lain juga dilaporkan, antara lain gangguan tidur, burnout akademik maupun pembelajaran, insecure attachment, penggunaan internet atau media sosial bermasalah, bullying, serta non-suicidal self-injury. Berbagai faktor relasional dan individual, seperti kualitas hubungan orang tua-anak, harga diri, kebutuhan psikologis dasar, dukungan sosial, rumination, self-control, dan school connectednes, turut berperan. Karena sebagian bukti berasal dari study cross-sectional, hubungan sebab-akibat belum dapat disimpulkan secara kuat. Kajian longitudinal dan penelitian pada konteks budaya yang lebih beragam masih dibutuhkan.