Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Prinsip Arsitektur Healing Environment pada Fasilitas Kesehatan Jiwa di Yogyakarta Aji Triyono; Sri Prasetya Widodo; S Wardiningsih
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.14050

Abstract

Gangguan Kesehatan Pada Jiwa merupakan salah satu permasalahan yang terus meningkat di berbagai Negara, termasuk di Indonesia. WHO (2009) memperkirakan 450 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan mental, di Indonesia, khususnya Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu sekitar 3.875 jiwa, diikuti oleh Kabupaten Gunung Kidul sebanyak 2.732 jiwa, Kabupaten Kulon Progo sekitar 1.995 jiwa, Kota Yogyakarta Sekitar 1.954 jiwa, dan Sleman Sekitar 1.768 Jiwa. Namun masih banyak bangunan Fasilitas Kesehatan Jiwa yang kurang mendukung kenyamanan psikologis pasien, seperti desain ruang, bangunan yang kaku, minim pencahayaan alami, dan kurangnya area terbuka hijau. Riset yang dilakukan oleh Robert Ulrich, direktur Center for Health System menjelaskan bahwa lingkungan fisik berpengaruh besar pada kualitas proses penyembuhan pada pasien. Healing Environment adalah konsep yang didalamnya memuat aspek alam, aspek psikologis, dan aspek panca indra manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep Healing Environment pada Fasilitas Kesehatan Jiwa sebagai upaya mendukung proses penyembuhan pada pasien. Penelitian menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan deskriptif, pengumpulan data, kajian Literatur, Observasi, Dokumentasi, serta studi kompratif terhadap beberapa Fasilitas Kesehatan Jiwa di Indonesia maupun di Luar Negeri. Penerapan Konsep Healing Environment dapat mengoptimalisasi pencahayaan alami kedalam bangunan, penyediaan sistem sirkulasi udara yang baik, dan kehadiran elemen alam dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.
Perancangan LPKA Kelas I yang Humanis dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan di Jakarta Raden Sudarwin; Sri Prasetya Widodo; S Wardiningsih
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.14219

Abstract

Permasalahan kenakalan remaja di wilayah perkotaan, khususnya Jakarta Timur, memerlukan penanganan yang tidak hanya berorientasi pada keamanan, tetapi juga pembinaan dan rehabilitasi yang terstruktur dengan baik. Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) perlu menyediakan lingkungan yang mendukung pendidikan, pembentukan karakter, interaksi sosial, dan reintegrasi anak ke masyarakat. Penelitian ini bertujuan merancang LPKA Kelas I di Kelurahan Pondok Ranggon, Jakarta Timur, melalui integrasi arsitektur humanis dan berkelanjutan dengan tetap memenuhi kebutuhan keamanan dan pengawasan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus arsitektur melalui studi literatur, studi preseden, analisis tapak, pengguna, aktivitas, kebutuhan ruang, zoning, sirkulasi, dan aspek kenyamanan serta keberlanjutan. Hasil perancangan menunjukkan penerapan tipologi rehabilitatif melalui penyediaan fasilitas hunian, pendidikan, pelatihan keterampilan, konseling, ibadah, olahraga, ruang makan, dan ruang komunal. Pendekatan humanis diterapkan melalui skala ruang manusiawi, pencahayaan dan penghawaan alami, courtyard, ruang terbuka hijau, serta hubungan ruang dalam dan luar. Prinsip berkelanjutan diwujudkan melalui orientasi bangunan, ventilasi silang, vegetasi, area resapan, pengelolaan air hujan, dan air limbah. Keamanan diterapkan melalui hierarki ruang, kontrol akses, pemisahan sirkulasi, dan pengawasan visual secara lebih efektif. Integrasi tersebut secara komprehensif menghasilkan lingkungan LPKA yang aman, nyaman, edukatif, berkelanjutan, dan tidak represif dalam mendukung proses pembinaan dan rehabilitasi anak yang optimal.