Permasalahan kenakalan remaja di wilayah perkotaan, khususnya Jakarta Timur, memerlukan penanganan yang tidak hanya berorientasi pada keamanan, tetapi juga pembinaan dan rehabilitasi yang terstruktur dengan baik. Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) perlu menyediakan lingkungan yang mendukung pendidikan, pembentukan karakter, interaksi sosial, dan reintegrasi anak ke masyarakat. Penelitian ini bertujuan merancang LPKA Kelas I di Kelurahan Pondok Ranggon, Jakarta Timur, melalui integrasi arsitektur humanis dan berkelanjutan dengan tetap memenuhi kebutuhan keamanan dan pengawasan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus arsitektur melalui studi literatur, studi preseden, analisis tapak, pengguna, aktivitas, kebutuhan ruang, zoning, sirkulasi, dan aspek kenyamanan serta keberlanjutan. Hasil perancangan menunjukkan penerapan tipologi rehabilitatif melalui penyediaan fasilitas hunian, pendidikan, pelatihan keterampilan, konseling, ibadah, olahraga, ruang makan, dan ruang komunal. Pendekatan humanis diterapkan melalui skala ruang manusiawi, pencahayaan dan penghawaan alami, courtyard, ruang terbuka hijau, serta hubungan ruang dalam dan luar. Prinsip berkelanjutan diwujudkan melalui orientasi bangunan, ventilasi silang, vegetasi, area resapan, pengelolaan air hujan, dan air limbah. Keamanan diterapkan melalui hierarki ruang, kontrol akses, pemisahan sirkulasi, dan pengawasan visual secara lebih efektif. Integrasi tersebut secara komprehensif menghasilkan lingkungan LPKA yang aman, nyaman, edukatif, berkelanjutan, dan tidak represif dalam mendukung proses pembinaan dan rehabilitasi anak yang optimal.