Pengelolaan persediaan obat yang efisien diperlukan untuk menjamin ketersediaan obat sekaligus mengendalikan biaya pengadaan dan penyimpanan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penerapan metode Minimum-Maximum Stock Level (MMSL) terhadap nilai persediaan, nilai stock out, Inventory Turnover Ratio (ITOR), dan kejadian stock out di Instalasi Farmasi RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain one-group pre-post intervention. Data retrospektif tahun 2023 dibandingkan dengan data prospektif tahun 2024 setelah penerapan MMSL. Analisis intervensi melibatkan 36 jenis obat kategori A yang memenuhi kriteria inklusi setelah analisis ABC dan penyaringan kestabilan pasokan. Parameter MMSL dihitung berdasarkan lead time dan rata-rata penggunaan harian. Perbedaan berpasangan dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test, sedangkan perubahan kejadian stock out dianalisis menggunakan uji McNemar. Nilai persediaan menurun dari Rp6.413.099.971 menjadi Rp5.055.713.436 atau sebesar 21,17% (p = 0,004), sedangkan nilai stock out menurun dari Rp16.869.564 menjadi Rp9.834.701 atau sebesar 41,70% (p = 0,005). Nilai ITOR menurun dari 228 menjadi 55 kali/tahun (p = 0,033), sedangkan kejadian stock out menurun dari 13 menjadi 4 kejadian (p = 0,049). Penerapan MMSL selama periode penelitian berkaitan dengan penurunan nilai investasi persediaan dan kejadian stock out. MMSL dapat digunakan sebagai pendekatan praktis dalam perencanaan pengadaan dan pengendalian persediaan obat, dengan tetap mempertimbangkan pola kebutuhan dan lead time pemasok.