Indra Jayusman
Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional Bandung, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Evaluasi Akurasi Pemetaan Dalam Ruangan Berbasis LiDAR-SLAM Menggunakan Metode Single mapping dan Multi mapping pada Gedung 18 ITENAS Indra Jayusman; Gusti Ayu Jessy Kartini
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 6 No 9 (2026): JPTI - September 2026
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.2414

Abstract

Teknologi Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) berbasis LiDAR telah menjadi salah satu metode yang banyak digunakan untuk pemetaan tiga dimensi (3D) lingkungan indoor karena mampu menghasilkan model point cloud secara cepat tanpa bergantung pada sinyal Global Navigation Satellite System (GNSS). Namun, strategi akuisisi data yang digunakan berpotensi memengaruhi kualitas geometrik model yang dihasilkan, terutama pada bangunan bertingkat dengan lintasan pemetaan yang kompleks. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi model point cloud hasil metode single mapping dan multi mapping menggunakan SLAM LiDAR pada Gedung 18 Institut Teknologi Nasional Bandung. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen komparatif. Data diperoleh melalui akuisisi point cloud menggunakan Hi-Target V700S SLAM LiDAR, pengukuran 10 titik check point menggunakan Total Station sebagai referensi koordinat, serta pengukuran dimensi 12 objek bangunan menggunakan meteran dan distometer untuk validasi geometri. Akurasi koordinat dievaluasi menggunakan parameter Root Mean Square Error (RMSE), Circular Error 90 (CE90), dan Linear Error 90 (LE90), sedangkan kesesuaian geometri dianalisis menggunakan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode single mapping menghasilkan akurasi koordinat yang lebih baik dibandingkan multi mapping, yang diindikasikan oleh nilai RMSE horizontal sebesar 0,0916 m dan CE90 sebesar 0,1390 m. Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa proses registrasi pada metode multi mapping berpotensi meningkatkan propagasi kesalahan koordinat. Meskipun demikian, hasil uji statistik menunjukkan bahwa kedua metode mampu merepresentasikan geometri bangunan secara konsisten tanpa perbedaan yang signifikan terhadap hasil pengukuran lapangan (p > 0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa single mapping lebih sesuai untuk pekerjaan yang memerlukan ketelitian koordinat tinggi, sedangkan multi mapping tetap dapat diterapkan pada bangunan dengan keterbatasan akses selama proses registrasi dilakukan secara optimal.