Pembelajaran IPS di tingkat sekolah dasar sering kali menghadapi tiga hambatan pokok. Pertama, materi cenderung dipelajari secara hafalan tanpa menghasilkan pemahaman yang mendalam. Kedua, siswa mengalami kesulitan ketika harus menalar konsep yang bersifat abstrak, misalnya peristiwa sejarah, penggunaan peta, maupun struktur sosial. Ketiga, keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik masih relatif lemah. Permasalahan ini berakar dari dominasi metode ceramah, minimnya keterkaitan materi dengan pengalaman nyata, kurangnya pemanfaatan media visual maupun simulasi, serta terbatasnya aktivitas kreatif yang melibatkan siswa secara aktif. Sebagai solusi, dirancang pendekatan terpadu dengan menggabungkan tiga strategi, yaitu Contextual Teaching and Learning (CTL) mengaitkan materi dengan kegiatan kesehariannya melalui diskusi dan studi kasus lokal, misalnya kebersihan sekolah atau pasar sebagai contoh tanggung jawab sosial. Inquiry-Based Learning memanfaatkan peta, gambar, video, dan simulasi sederhana untuk memudahkan pemahaman konsep abstrak. Sementara itu, Project-Based Learning memberi kesempatan kepada siswa untuk menghasilkan karya nyata, seperti poster sosial, wawancara dengan tokoh masyarakat, atau observasi lingkungan sekitar. Tiga tujuan pembelajaran ditetapkan secara terukur. Pertama, siswa mampu menjelaskan materi IPS dengan mengaitkan kehidupan nyata, ditunjukkan melalui refleksi tertulis dan partisipasi diskusi. Kedua, siswa dapat menyusun peta konsep yang menunjukkan keterkaitan antar-ide IPS, dinilai dari keakuratan hubungan konsep dan presentasi kelompok. Ketiga, siswa terlatih menyusun argumen logis dalam diskusi atau debat, dengan indikator minimal tiga argumen berbasis data dalam satu sesi. Penilaian dilakukan melalui refleksi, checklist peta konsep, observasi diskusi, serta rubrik argumen. Setiap pendekatan memiliki kelebihan dan keterbatasan. CTL membuat konsep lebih relevan dan memotivasi siswa, namun fokus lokal bisa membatasi pemahaman global. Inkuiri membantu menjernihkan konsep abstrak, tetapi menuntut keterampilan guru dalam mengelola media. Proyek melatih berpikir kritis dan pengambilan keputusan berbasis fakta, namun diskusi berpotensi melebar tanpa arah jika tidak dikendalikan. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu menyeimbangkan contoh lokal dengan fenomena nasional maupun global, memadukan media manual dan digital, serta memberi panduan jelas agar diskusi tetap fokus dan etis.