p-Index From 2021 - 2026
0.835
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Karimah Tauhid
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Minat terhadap Pelajaran Bahasa Inggris di Kalangan Siswa Sekolah Dasar Semakin Memudar Muhammad Wildanul Mukhtar Arrosyidi
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 4 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i4.22791

Abstract

Pengajaran bahasa Inggris disusun sebagai landasan pokok dalam menguasai bahasa yang berlaku secara internasional. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa minat siswa sekolah dasar terhadap pelajaran ini mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan menelaah faktor-faktor utama yang memengaruhi penurunan minat tersebut serta dampaknya terhadap proses belajar. Metode yang digunakan adalah kajian literatur. Hasil kajian menemukan tiga faktor dominan penyebab menurunnya minat belajar. Pertama, metode pengajaran yang digunakan masih bersifat tradisional, dengan penekanan utama pada ceramah, penghafalan kosakata, dan penggunaan lembar kerja tanpa dukungan permainan atau media interaktif. Kedua, tingginya beban kognitif akibat penekanan berlebihan pada tata bahasa yang kompleks dan kurang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Ketiga, lingkungan belajar yang tidak mendukung, di mana Bahasa Inggris jarang dipakai dalam komunikasi sehari-hari baik di sekolah maupun di rumah, sehingga dianggap abstrak dan kurang relevan. Dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penurunan minat belajar Bahasa Inggris pada siswa sekolah dasar lebih disebabkan oleh faktor pedagogis dan kontekstual, bukan keterbatasan kemampuan siswa. Implikasinya, diperlukan peninjauan ulang kurikulum serta metode pengajaran Bahasa Inggris di tingkat dasar agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.
Peran Kolaboratif Guru dan Orang Tua dalam Penguatan Psikologi dan Motivasi Belajar Anak Muhammad Wildanul Mukhtar Arrosyidi; Muhammad Adil Taufiq; Muhammad Rafha Maysha Aziz; Anne Effane
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 5 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i5.24050

Abstract

Periode awal kehidupan anak merupakan tahap fundamental dalam pembentukan dasar psikologis serta motivasi belajar. Artikel ini menekankan pentingnya sinergi antara guru dan orang tua dalam memahami psikologi anak serta merancang strategi untuk menumbuhkan semangat belajar sejak dini. Kajian dilakukan melalui studi pustaka yang mengulas teori perkembangan anak dan konsep motivasi, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, penuh stimulasi, dengan pendekatan bermain sambil belajar serta pemantauan perkembangan anak di sekolah. Orang tua, pada sisi lain, memberikan dukungan emosional, pola asuh yang responsif, dan rutinitas positif di rumah. Motivasi anak dapat ditingkatkan melalui komunikasi yang konsisten antara guru dan orang tua, keselarasan dalam pemberian penguatan positif, serta perhatian terhadap minat dan kebutuhan unik anak. Kesimpulannya, kolaborasi erat berbasis pemahaman psikologis yang mendalam menjadi faktor utama dalam menumbuhkan motivasi internal anak usia dini dan mempersiapkan mereka menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.
Kolaborasi dan Visualisasi dalam IPS: Desain Pembelajaran untuk Generasi Kritis Muhammad Adil Taufiq; Muhammad Wildanul Mukhtar Arrosyidi
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 9 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i9.25018

Abstract

Pembelajaran IPS di tingkat sekolah dasar sering kali menghadapi tiga hambatan pokok. Pertama, materi cenderung dipelajari secara hafalan tanpa menghasilkan pemahaman yang mendalam. Kedua, siswa mengalami kesulitan ketika harus menalar konsep yang bersifat abstrak, misalnya peristiwa sejarah, penggunaan peta, maupun struktur sosial. Ketiga, keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik masih relatif lemah. Permasalahan ini berakar dari dominasi metode ceramah, minimnya keterkaitan materi dengan pengalaman nyata, kurangnya pemanfaatan media visual maupun simulasi, serta terbatasnya aktivitas kreatif yang melibatkan siswa secara aktif. Sebagai solusi, dirancang pendekatan terpadu dengan menggabungkan tiga strategi, yaitu Contextual Teaching and Learning (CTL) mengaitkan materi dengan kegiatan kesehariannya melalui diskusi dan studi kasus lokal, misalnya kebersihan sekolah atau pasar sebagai contoh tanggung jawab sosial. Inquiry-Based Learning memanfaatkan peta, gambar, video, dan simulasi sederhana untuk memudahkan pemahaman konsep abstrak. Sementara itu, Project-Based Learning memberi kesempatan kepada siswa untuk menghasilkan karya nyata, seperti poster sosial, wawancara dengan tokoh masyarakat, atau observasi lingkungan sekitar.             Tiga tujuan pembelajaran ditetapkan secara terukur. Pertama, siswa mampu menjelaskan materi IPS dengan mengaitkan kehidupan nyata, ditunjukkan melalui refleksi tertulis dan partisipasi diskusi. Kedua, siswa dapat menyusun peta konsep yang menunjukkan keterkaitan antar-ide IPS, dinilai dari keakuratan hubungan konsep dan presentasi kelompok. Ketiga, siswa terlatih menyusun argumen logis dalam diskusi atau debat, dengan indikator minimal tiga argumen berbasis data dalam satu sesi. Penilaian dilakukan melalui refleksi, checklist peta konsep, observasi diskusi, serta rubrik argumen. Setiap pendekatan memiliki kelebihan dan keterbatasan. CTL membuat konsep lebih relevan dan memotivasi siswa, namun fokus lokal bisa membatasi pemahaman global. Inkuiri membantu menjernihkan konsep abstrak, tetapi menuntut keterampilan guru dalam mengelola media. Proyek melatih berpikir kritis dan pengambilan keputusan berbasis fakta, namun diskusi berpotensi melebar tanpa arah jika tidak dikendalikan. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu menyeimbangkan contoh lokal dengan fenomena nasional maupun global, memadukan media manual dan digital, serta memberi panduan jelas agar diskusi tetap fokus dan etis.
Membangun Keberanian, Keadilan, dan Empati: Desain Pembelajaran Seni Berbasis Latihan Bertahap, Rotasi Alat dan Kritik Santun Muhammad Wildanul Mukhtar Arrosyidi; Cantika Ramdini
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 9 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i9.25122

Abstract

Mata pelajaran seni budaya di sekolah masih menghadapi beberapa masalah yang cukup besar dan berpengaruh pada proses belajar. Pertama, banyak siswa kurang berani tampil di depan kelas karena tidak ada persiapan mental dan latihan bertahap untuk membangun rasa percaya diri. Guru sering langsung meminta siswa tampil sendiri tanpa pemanasan atau pilihan lain, sehingga siswa yang pemalu merasa tertekan. Kedua, fasilitas dan alat praktik seni terbatas, sehingga hanya sebagian siswa yang bisa menggunakannya. Kondisi ini makin berat karena tidak ada sistem bergantian dalam penggunaan alat dan perawatan juga kurang, sehingga akses belajar seni jadi tidak merata. Ketiga, budaya kritik di kelas sering tidak sehat, bahkan berubah jadi ejekan atau bullying. Hal ini terjadi karena guru belum memberi contoh cara mengkritik yang baik dan sekolah belum punya aturan serta konsekuensi yang jelas. Penilaian dilakukan secara formatif melalui observasi partisipasi, daftar cek latihan, refleksi singkat, lembar respon apresiasi, dan catatan interaksi antar siswa. Dengan pendekatan yang partisipatif, bertahap, dan adil, pembelajaran seni tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membentuk karakter percaya diri, kerja sama, dan empati, serta menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan. Penulisan rancangan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan data dari telaah artikel-artikel relevan. Metode ini membantu peneliti menggambarkan secara mendalam dinamika pembelajaran, persepsi siswa terhadap keberanian tampil, efektivitas sistem rotasi alat, serta praktik budaya kritik. Sebagai solusi, dibuatlah model pembelajaran baru yang berlandaskan prinsip Teaching at the Right Level dan Positive Classroom Culture. Model ini punya tiga fokus utama: (1) meningkatkan percaya diri siswa lewat latihan bertahap dan memberi kebebasan memilih bentuk penampilan sesuai kenyamanan; (2) mengatasi keterbatasan alat dengan sistem rotasi kelompok yang teratur serta memanfaatkan media sederhana seperti tepuk tangan, meja, atau botol; dan (3) menumbuhkan budaya apresiasi dan kritik santun dengan panduan kalimat positif, keteladanan guru, serta aturan sekolah yang melarang ejekan dengan konsekuensi mendidik.
Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Mengatasi Kesulitan Menulis, Apresiasi Sastra dan Keterampilan Berbicara Siswa Cantika Ramdini; Muhammad Wildanul Mukhtar Arrosyidi
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 9 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i9.25154

Abstract

Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar masih menghadapi tiga tantangan utama, yaitu kesulitan menulis (terkait ide, struktur dan ejaan), rendahnya apresiasi sastra (minat baca dan pemaknaan teks), serta keterampilan berbicara yang belum optimal (kepercayaan diri dan penguasaan diksi). Kondisi ini menuntut strategi pembelajaran yang tepat dan berbasis bukti. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi literatur, penelitian ini mengumpulkan data dari berbagai sumber pustaka yang relevan, seperti jurnal terakreditasi, buku referensi, dan prosiding seminar nasional yang diterbitkan pada rentang tahun –. Analisis dilakukan dengan teknik content analysis menggunakan model deskriptif-komparatif untuk menemukan pola strategi yang efektif. Kajian menunjukkan bahwa: (1) kesulitan menulis dapat diminimalisasi melalui writing workshop dan penggunaan peta pikiran yang meningkatkan kualitas karangan hingga 35%; (2) apresiasi sastra berkembang melalui strategi reader response dan pembelajaran berbasis proyek, misalnya pembuatan video resensi puisi; (3) keterampilan berbicara meningkat dengan metode debat, bermain peran, serta presentasi berpasangan yang menurunkan kecemasan berbicara. Pembahasan menegaskan bahwa strategi terpadu yang mengintegrasikan menulis, sastra, dan berbicara secara siklis lebih efektif dibandingkan pendekatan parsial. Strategi pembelajaran Bahasa Indonesia yang holistik, berpusat pada siswa, serta didukung media digital dan latihan terbimbing terbukti efektif dalam mengatasi kesulitan menulis, apresiasi sastra, dan keterampilan berbicara. Kajian ini merekomendasikan penelitian tindakan kelas untuk implementasi langsung di ruang belajar.